Selasa, 7 September 2010 18:50 WIB Solo Share :

Dandim Karanganyar meminta maaf kepada SOLOPOS

Solo (Espos)–Komandan Kodim (Dandim) 0727 Karanganyar, Letkol (Inf) Lilik Sutikna, meminta maaf kepada Harian Umum SOLOPOS, khususnya kepada wartawan SOLOPOS, Triyono, Selasa (7/9) petang. Permintaan maaf tersebut disampaikan Lilik menyusul insiden pemukulan yang dilakukannnya terhadap Triyono, Rabu (1/9) pekan lalu.

Lilik mengungkapkan permintaan maaf tersebut dalam sebuah pertemuan yang digelar di ruang rapat Griya Solopos, Selasa petang. Dalam pertemuan itu Lilik yang juga didampingi oleh Komandan Korem (Danrem) 074/Warastratama Kol (Inf) Abdul Rahman Kadir, dan sejumlah jajarannya. Rombongan tersebut diterima langsung oleh Redaktur Pelaksana (Redpel) HU SOLOPOS, Anton Prihartono disertai sejumlah redaktur.

Sebelum meminta maaf, Lilik juga menyeritakan kronologis kejadian penangiayaan yang dilakukannya kepada Triyono.Menurutnya, insiden tersebut tidak terjadi begitu saja. Sebelumnya, dia membaca koran SOLOPOS tentang berita kasus Griya Lawu Asri (GLA). Dalam berita tersebut diungkapkan bahwa aliran dana GLA juga diterima pihak Kodim dan Polres. Menurut berita yang ditulis Triyono, data tersebut diambil dari fakta sidang bahwa ada saksi yang menyatakan demikian.

“Membaca berita itu saya langsung meminta anak buah saya untuk memanggil saudara Triyono. Ketika saya tanya soal data, saudara Triyono berkeras bahwa data tersebut diambil dari fakta sidang. Padahal menurut keterangan yang saya peroleh, pernyataan itu tidak ada dari saksi dalam sidang. Karena itulah saya melakukan pemukulan,” jelas Lilik.

Namun, lanjut Lilik, dirinya menyadari bahwa tindakannya salah. Untuk itu dirinya meminta maaf kepada Triyono, wartawan-wartawan dan pimpinan SOLOPOS.

Sementara itu, Danrem Kol (Inf) Abdul Rahman Kadir menyatakan bahwa pihaknya berjanji tidak akan ada insiden semacam itu. Pihaknya juga menjamin tidak akan ada lagi tindakan menghalang-halangi kerja wartawan. Meskipun permintaan maaf telah dilakukan, menurut Abdul Rahman, proses hukum terhadap Lilik terus berjalan.

Sementara itu pihak HU SOLOPOS, yang diwakili oleh Redpel Anton Prihartono menyatakan, pihaknya menerima permintaan maaf tersebu. Anton juga berharap kejadian serupa tidak terulang lagi dan para wartawan bebas melakukan tugasnya tanpa adanya perasaan takut atau terancam.

Sebelumnya, wartawan Harian Umum SOLOPOS, Triyono, Selasa (7/9), sekitar pukul 14.30 WIB melaporkan kasus penganiayaan terhadap dirinya yang dilakukan oleh Dandim Karanganyar, Letkol Inf Lilik Sutikna, yang terjadi Rabu (1/9).

Pada saat melapor, Triyono yang didampingi oleh Redpel SOLOPOS, Anton Prihartono dan sejumlah redaktur serta manajer perusahaan PT Aksara Solopos, diterima oleh petugas POM dan langsung dimintai keterangan atau di-BAP.

Dijelaskan oleh Syifaul Arifin, salah satu redaktur SOLOPOS yang mendampingi Triyono, kasus itu bermula dari tulisan di Harian SOLOPOS, edisi Rabu (1/9), soal Griya Lawu Asri (GLA). Dalam persidangan Selasa (31/8), ada keterangan saksi di sidang yang mengatakan ada aliran dana ke Kodim dan Polres.

Pada hari Rabu (1/9), Triyono dipanggil untuk datang ke Kodim 0727. Kemudian dalam ruangan, Triyono yang belum sempat berbicara dan akan mengulurkan tangan ingin bersalaman langsung dipukul oleh Lilik dan mengenai mata kirinya.

Kemudian ketika Triyono duduk, Dandim itu pun menjambak rambut Triyono. Gara-gara peristiwa tersebut, mata kiri Triyono berdarah cukup parah. Secara psikologis Triyono juga ketakutan karena Dandim juga mengancam akan menghabisinya.

Beberapa hari setelah kasus tersebut, Triyono masih merasa ketakutan dan baru hari ini Triyono melaporkan kasus ini ke Denpom. Sebelumnya Triyono juga memeriksakan diri ke Rumah Sakit Islam Yarsis.

“Kami sangat menyayangkan dan mengecam¬† penganiayaan ini. Karena tindakan tersebut sudah merupakan bentuk tindakan menghalangi kerja jurnalistik yang dilindungi oleh hukum,” tandas Syifaul.

Tim espos

lowongan pekerjaan
PT. TUMBAKMAS NIAGASAKTI, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Sapa Salah Seleh

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat (17/11/2017). Esai ini karya Tito Setyo Budi, esais, sastrawan, dan budayawan yang tinggal di Sragen. Alamat e-mail penulis adalah titoesbudi@yahoo.com Solopos.com, SOLO–Ada pepatah tua dalam khazanah budaya Jawa, yaitu sapa salah seleh. Artinya,…