Sabtu, 4 September 2010 11:27 WIB Hukum Share :

Benda sakral Bali dikuasai WN Italia

Badung— Ratusan pratima atau benda sakral yang diduga hasil curian berhasil diamankan petugas Polres Badung dari tangan warga negara (WN) Italia, Roberto Gamba, 50, di Villa Marisa, Jalan Bumbuk Kerobokan Badung.

Roberto yang juga seorang kolektor awalnya dicurigai oleh masyarakat sekitar yang melihat di dalam villa tersebut banyak menyimpan pratima.

“Di dalam kita temukan banyak sekali barang antik, khususnya pratima,” kata Kapolres Badung AKBP Dwi Suseno seperti dilansir vivanews.com, Sabtu (4/9).

Di villa tersebut ditemukan sekitar 110 pratima berbagai jenis dan ukuran, belasan gagang keris antik beserta sarungnya, serat atau lontar yang bertuliskan huruf-huruf sansekerta yang diduga berumur ratusan tahun, satu lontar yang terbuat dari tembaga, serta satu karung uang kepeng asli yang diperkirakan ada sekitar 35.000, bahkan beberapa arca ada yang berlapis emas.

Dari pengakuan Roberto, dirinya mendapatkan barang-barang tersebut dari warga lokal, antara lain Nyoman dari Nusa Penida, Made Nusa Penida, Komang Oka asal Sukawati Gianyar serta penjual yang mangkal di art shop Kerobokan dan Gadu Tabanan. Selain dari Bali, benda-benda ini juga didapatnya dari daerah Ciputat Jakarta.

“Dia membeli pratima itu dengan harga yang murah, berkisar antar Rp 500.000 sampai Rp 1 juta. Memang buktinya kuat, jika dia ini penadah, kepastiannya masih kami dalami,” ujarnya.

Roberto Gamba sendiri mengaku sudah mengkoleksi pratima tersebut sejak tahun 2006 lalu. Dari pengakuannya dia tidak mengetahui bahwa barang tersebut merupakan barang sakral (berupa patung) yang ada di dalam Pura. Satu buah pratima diperkirakan nilainya mencapai Rp 200 juta, sehingga jika ditotal pratima yang ditemukan nilainya mencapai sekitar Rp 20 miliar.

Sebelumnya dalam beberapa bulan yang lalu, ada tiga Pura yang dibobol pencuri, yakni Pura Khayangan Tiga, Pura Yangapi, dan Pura Dalem Samprangan di Banjar Samprangan Desa Samprangan Gianyar.

rif

lowongan pekerjaan
Hotel Margangsa, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Sapa Salah Seleh

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat (17/11/2017). Esai ini karya Tito Setyo Budi, esais, sastrawan, dan budayawan yang tinggal di Sragen. Alamat e-mail penulis adalah titoesbudi@yahoo.com Solopos.com, SOLO–Ada pepatah tua dalam khazanah budaya Jawa, yaitu sapa salah seleh. Artinya,…