Rabu, 1 September 2010 21:23 WIB Boyolali Share :

Penyelundup SS di Adisoemarmo dituntut 20 tahun penjara

Boyolali (Espos)–Terdakwa penyelundup sabu-sabu (SS) senilai sekitar Rp 2,4 miliar di Bandara Adisoemarmo Solo, Ramadan bin Rusli, 27, warga Aceh dituntut hukuman 20 tahun penjara oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU) Anshar Wahyuddin SH dalam sidang lanjutan di Pengadilan Negeri (PN) Boyolali, Rabu (1/9).

Terdakwa yang memiliki isteri warga Sragen itu juga dituntut membayar denda Rp 2 miliar subsider enam bulan penjara. Jaksa menilai terdakwa terbukti secara sah melakukan perbuatan melanggar hukum sesuai Pasal 113 ayat 2 UU 35/2009 tentang Narkotika. Dalam tuntutannya jaksa mengungkapkan terdakwa ditangkap petugas Bandara Adisoemarmo, awal Mei lalu, saat membawa koper yang berisi sekitar dua kilogram sabu-sabu yang dikemas dalam enam botol bedak bayi.

Di persidangan terdakwa mengaku tidak tahu kalau botol bedak bayi itu berisi sabu-sabu karena hanya dititipi seseorang yang bernama Ali warga Jogjakarta. Terdakwa juga mengaku diberi uang 100 ringgit Malaysia untuk ongkos membawa barang titipan tersebut.

JPU menilai hal-hal yang memberatkan terdakwa yakni perbuatan terdakwa meresahkan masyarakat, tidak mendukung upaya pemberantasan penggunaan narkoba dan perbuatan terdakwa merusak moral generasi muda. “Sedang hal-hal yang meringankan terdakwa yakni terdakwa menjadi tulang punggung perekonomian keluarga yang memiliki istri dan satu orang anak,” jelas Anshar.

Anshar menambahkan dalam tuntutan itu, pihaknya juga meminta majelis hakim untuk mengabulkan agar paspor atas nama terdakwa dan uang Rp 241.000 dikembalikan kepada terdakwa.

Terpisah, seusai sidang, penasehat hukum terdakwa Alif Arifin SH mengatakan pihaknya akan mengajukan pledoi atau pembelaan atas tuntutan JPU. Alif mengaku tuntutan jaksa itu memberatkan kliennya. “Klien kami terus terang sangat keberatan dengan tuntutan jaksa, karena fakta di persidangan terungkap klien kami hanya dititipi,” ujarnya kepada Espos, Rabu.

Ditambahkan Alif, pihaknya juga meminta majelis hakim untuk memberikan waktu sepekan untuk menyusun pledoi terdakwa atas tuntutan tersebut. Majelis hakim kemudian mengabulkan permintaan penasehat hukum terdakwa dan sidang dilanjutkan pekan depan dengan agenda pembacaan pledoi.

fid

lowongan pekerjaan
induktorindo, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Sapa Salah Seleh

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat (17/11/2017). Esai ini karya Tito Setyo Budi, esais, sastrawan, dan budayawan yang tinggal di Sragen. Alamat e-mail penulis adalah titoesbudi@yahoo.com Solopos.com, SOLO–Ada pepatah tua dalam khazanah budaya Jawa, yaitu sapa salah seleh. Artinya,…