warmin
Selasa, 31 Agustus 2010 16:12 WIB Kolom Share :

Bidak catur Malaysia...

Kawan saya, seorang TKI yang sudah puluhan tahun bekerja di Brunei Darussalam, yang menikah dengan wanita kelahiran Indonesia namun menjadi warga negara Malaysia, tidak bisa membayangkan kalau Indonesia terlibat konfrontasi bersenjata alias perang dengan Malaysia.

“Enggak bisa membayangkan Mas. Bagaimana kira-kira nanti jadinya kalau benar-benar perang? Apa masih boleh saya mengantar istri ke Sabah? Apa masih boleh saya mengajak istri ke Solo? Terus bagaimana nasib teman-teman kita di Malaysia?” tanya dia bertalu-talu.

Tetapi saya terkejut saat dirinya menyatakan siap jika memang harus perang. “Ok, neng kene siap perang. Tapi kan nunggu rundingan tgl 6-9 sik. Aku juga nunggu hasil rundingan baru ke Malaysia. Yen perang, aku ga sido nyang Malaysia,” katanya lagi.

Saya terkejut, dia mendapat kabar dari mana akan nada perundingan Indonesia-Malaysia pada tanggal 6-9 September mendatang. Tapi saya lebih terkejut bahwa ternyata dia tidak takut jika opsi perang akhirnya diambil.

Memang repot kalau ribut dengan negara tetangga, apalagi dengan negara serumpun seperti Malaysia.  Begitu banyak centang perentang dan kait-mengait yang melibatkan kedua negara, baik antarnegara maupun antarwarganegara.

Menurut sejumlah catatan, tahun lalu, Malaysia masuk 10 besar investor asing di Indonesia dengan nilai investasi lebih dari 120 juta US$  (2009). Artinya banyak perusahaan Malaysia yang berada di Indonesia, mulai dari operator seluler, otomotif, perbankan, asuransi, perkebunan, penerbangan hingga perminyakan. Artinya, jutaan orang Indonesia bekerja di perusahaan Malaysia di Indonesia.

Malaysia juga menjadi negara tujuan utama pengiriman TKI yang mencapai sekitar 2,2 juta jiwa. Dari hubungan itu, tidak mengejutkan muncul kabar  ada TKI yang membawa pulang wanita Malaysia untuk dinikahi. Ada pula TKI yang menikahi wanita Malaysia.

Sekitar 6.000 pelajar dan mahasiswa Malaysia menempuh studi di Indonesia dan sebaliknya, ribuan mahasiswa Indonesia kuliah di Malaysia. Lagu-lagu Indonesia juga banyak digemari di Malaysia, mulai dari jenis pop hingga dangdut. Bahkan sempat ada peraturan yang membatasi pemutaran lagu Indonesia di radio Malaysia. Bahkan sinetron Indonesia yang sering kali membosankan bagi sebagian orang Indonesia sendiri, juga cukup digemari di Malaysia.

Dalam situasi seperti itu, sayangnya, Malaysia sering kali tidak bisa menempatkan diri sebagai tetangga yang baik. Negeri jiran itu sering kali melecehkan kedaulatan negara Republik Indonesia. Dalam catatan Litbang SOLOPOS, dari 2005-2010, ratusan kali Malaysia melakukan pelanggaran kedaulatan. Terakhir, Malaysia menangkap tiga petugas Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), sebuah persoalan sangat serius yang mudah menjadi isu politik dan mudah meniup hawa perang. Apalagi kedua negara pernah punya catatan panas dalam apa yang disebut sebagai “Ganyang Malaysia” pada era Bung Karno. Kalau Bapak Proklamator itu bangkit dari kuburnya, mungkin akan sangat murka melihat negaranya dilecehkan seperti ini.

Dalam cerita-cerita lama yang banyak berkembang di masyarakat Malaysia dan Indonesia, sering kali terjadi peristiwa perang yang dimulai dari penangkapan petugas kerajaan oleh kerajaan tetangganya. Sudah tentu, para petinggi kedua negara di Jakarta dan Kuala Lumpur paham benar sensitivitas isu ini. Sayangnya, Pemerintah Indonesia, seperti biasa, lamban mengantisipasi isu ini sehingga berkembang menjadi liar dan tidak fokus. Setelah lama ditunggu, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono “hanya” mengirim surat kepada Perdana Menteri (PM) Malaysia Najib Tun Razak agar masalah ini diselesaikan dengan baik. SBY mungkin tidak mempunyai beban politik apa-apa, tetapi Menteri Luar Negeri Marty Natalegawa, seorang diplomat karier yang masih muda dan cepat menanjak, tengah mempertaruhkan kariernya yang cemerlang. Marty termasuk yang paling banyak disalahkan dalam kasus ini karena dianggap lamban.

Ibarat permainan catur, Pemerintah gagal bermain cantik di tengah kerumitan persoalan yang melingkupi kedua negara. Pemerintah gagal menunjukkan kewibawaan negara di tengah sorotan tajam rakyatnya dan panggung internasional. Semua orang tahu, isu ini sulit dan rumit. Kelambanan langkah Pemerintah menjadikan persoalan menjadi lebih rumit.

Repotnya, Malaysia yang lebih makmur, lebih mudah memainkan bidaknya untuk memperlihatkan kekuatannya. Misalnya, dengan isu hukuman mati yang mengancam ratusan WNI di Malaysia. Negara-negara besar selalu mempunyai kemampuan untuk menyelamatkan warganya, walaupun hanya satu orang, untuk dibawa pulang ke Tanah Air. Tetapi kita, tampaknya memang belum menjadi negara besar. Pemerintah seperti lokomotif tua yang kerepotan mengurus gerbong rakyatnya di dalam negeri, dan tak berdaya menyelamatkan warganya di negeri tetangga.

Bagi sebuah negara yang berdaulat, keselamatan satu warganya sama dengan keselamatan seluruh warga Negara. Tiga orang petugas kita sempat menjadi pesakitan dan ratusan WNI terancam meregang nyawa. Dan Pemerintah kita nyaris tidak melakukan apa-apa, Sayang sungguh sayang

Suwarmin

Station Manager Star Jogja FM

Leave a Reply

Kolom

GAGASAN
Kemandirian Koperasi

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu (12/7/2017). Esai ini karya Edy Purwo Saputro, dosen di Program Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Surakarta. Alamat e-mail penulis adalah E.Purwo.Saputro@ums.ac.id. Solopos.com, SOLO–Memaknai gerakan koperasi pada dasarnya memberikan komitmen bagi kemajuan gerakan koperasi pada era…