Senin, 30 Agustus 2010 14:14 WIB News Share :

FPDIP interupsi ngotot ingin pimpin doa

Jakarta–Interupsi mewarnai rapat ulang tahun peringatan 65 tahun DPR. Interupsi yang dilakukan anggota FPDIP Eva Kusuma Sundari perihal giliran memimpin doa.

Peristiwa ini terjadi menjelang ditutupnya pembacaan pidato.

Interupsi yang dilakukan Eva dalam rapat di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Senin (30/8) itu tidak digubris Ketua DPR Marzuki Alie. Sedang agenda pembacaaan doa itu dipimpin anggota DPR dari fraksi PKS Iksan Qolba Lubis.

“Interupsi ketua,” kata Eva melalui pengeras suara yang ada dihadapnnya.

Marzuki tetap terus melanjutkan isi pidatonya yang sudah sampai tahap penutup.

“Dengan selesainya pembacaan doa, maka selesailah seluruh rangkaian acara pidato Ketua DPR pada Rapat Paripurna DPR memperingati HUT MPR/DPR RI ke-65…”, ujar Marzuki tanpa memperdulikan intrupsi Eva.

Tapi Eva tetap ngotot dan terus mengajukan intrupsi. Karena tidak diberi kesempatan hingg akhirnya Mazukie resmi menutup rapat, akhirnya Eva diam dan menerima.

“Izinkalah kami menutup sidang ini dengan ucapan Alhamdulillahirobil’alamin,” tutup Marzuki sebagai tanda berakhirnya rapat.

Usai sidang Marzuki langsung diburu wartawan atas sikapnya yang tidak memperdulikan intrupsi tersebut.

“Biarin aja,  dia nggak ngerti kok inikan sidang sakral dan pidato memperingati ulang tahun,” jelas Marzuki pada wartawan.

Saat kejadian itu dikonfirmasi ke Eva, dia sangat menyesalkan tindakan Marzuki sebagai ketua DPR. Apalagi Eva ternyata hanya mau mengintrupsi soal giliran pembacaan doa yang seharusnya pada hari ini bagian dari PDIP.

“Saya mau protes kenapa PDIP tidak mendapat giliran memimpin doa, karena sebelumnya PD dan PG maka saat ini harusnya PDIP, kok langsung ke PKS,” ujar Eva kepada wartawan.

“Yang paling saya sesalkan Pak Marzuki tidak memberikan kesempatan saya interupsi, padahal saya sampaikan dengan sopan karena toh saya jarang interupsi,” tambahnya.

Dia juga tidak setuju yang mengatakan alasan Marzuki karena ini pidato HUT MPR/DPR yang sakral sehingga tak boleh ada intrupsi.

“Sakral apaan, forum internal. Kalau kenegaraan, wong hanya internal parlemen,” sesal anggota Komisi XI ini.

dtc/nad

lowongan pekerjaan
garment, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Sapa Salah Seleh

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat (17/11/2017). Esai ini karya Tito Setyo Budi, esais, sastrawan, dan budayawan yang tinggal di Sragen. Alamat e-mail penulis adalah titoesbudi@yahoo.com Solopos.com, SOLO–Ada pepatah tua dalam khazanah budaya Jawa, yaitu sapa salah seleh. Artinya,…