Minggu, 29 Agustus 2010 21:35 WIB Boyolali Share :

Empat tahun bagunan SDN Bendungan mangkrak

Boyolali (Espos)–Sekitar kurun waktu empat tahun, bangunan SDN Bendungan, di Dukuh Bendungan, Desa Bendungan, Kecamatan Simo, Boyolali mangkrak. Sekolah itu ditutup lantaran kekurangan murid.

Kepala Desa Bendungan, Suratin menyatakan SDN Bendungan merupakan satu-satunya sekolah dasar di Dukuh Bendungan. Sejak ditutup sekitar 2006 silam, warga setempat kemudian menyekolahkan anak mereka ke SD/MI di sekitarnya. Masyarakat Dukuh Bendungan, imbuhnya, sebenarnya menyangkan ditutupnya sekolah tersebut.

“Tapi kalau memang sudah tidak bisa dipertahankan, masyarakat ikut saja. Sekarang sekolah terdekat dari Dukuh Bendungan jaraknya sekitar satu kilometer,” jelas Suratin saat dijumpai Espos di kediamannya, Minggu (29/8).

Kondisi bangunan SDN Bendungan tersebut kini rusak parah karena tidak dirawat. Kayu penyangga dan atap gedung sebagian sudah lapuk dan roboh. Begitu juga dengan genting sekolah yang melorot dan pecah. Halaman sekolah dasar itu dipenuhi rerumputan dan semak belukar. “Kalau mau digunakan atau diperbaiki lagi jelas tidak mungkin, karena kondisinya sudah rusak parah,” ulas Kades Bendungan.

Dia melanjutkan, gedung sekolah itu merupakan milik dan kewenangan pihak Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga (Disdikpora) Boyolali. Sedangkan lahannya, merupakan lahan milik Desa Bendungan.

“Lahan untuk SDN Bendungan itu luasnya sekitar 1.000 meter persegi. Dan karena gedung sekolah itu telah mangkrak bertahun-tahun, kami ingin memberdayakan lahan milik desa. Tapi karena bangunannya bukan kewenangan kami, maka kami belum berani melakukan apa-apa,” jelas Suratin.

Untuk memperjelas aset lahan desa di gedung bekas SDN Bendungan itu, beberapa pekan lalu pihak Pemdes Bendungan telah melayangkan surat ke Dinas Pendapatan, Pengelolaan Keuangan, dan Aset Daerah (DPPKAD) Boyolali dengan tembusan Bupati, Kecamatan, Disdikpora, hingga DPRD. Namun, sampai kemarin surat itu belum mendapatkan jawaban.

“Kalau memang bangunan itu sudah diserahkan desa, maka kami berniat merobohkan bangunannya dan menjual sisa bangunan, seperti kayu yang masih bisa dipakai untuk kayu bakar. Lalu lahannya bisa ditanami pohon jati sebagai sumber pemasukan desa,” pungkasnya.

hkt

lowongan kerja
lowongan kerja Sumber baru rejeki, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Leave a Reply

Kolom

GAGASAN
Guru Sejarah Melawan Intoleransi

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Selasa (11/7/2017). Esai ini karya Nur Fatah Abidin, mahasiswa Pascasarjana Pendidikan Sejarah Universitas Sebelas Maret. Alamat e-mail penulis adalah ikbenfatah@gmail.com. Solopos.com, SOLO–Pada Sabtu (8/7) lalu alumnus angkatan 1985 Pendidikan Sejarah Universitas Sanata Dharma Yogyakarta…