Minggu, 29 Agustus 2010 20:48 WIB Sragen Share :

Demi Sembako Rp 10.000, para tukang becak dan kuli pasar rela antre panjang

Kendati pembagian Sembako belum dimulai, ratusan tukang becak dan kuli panggul pasar sudah mengantre di depan tenda hijau milik Kodim 0725/Sragen yang dipasang di Alun-alun Sasana Langen Putra, Sragen, Minggu (29/8) sore. Tak heran pemandangan antrean panjang sering ditemui hampir di setiap even pembagian sembako menjelang Lebaran. Kecenderungan harga Sembako meningkat tajam ketika mendekati Lebaran.

Bagi mereka yang berduit, naiknya harga Sembako tak membuat pusing. Namun bagi mereka yang hidup dari penghasilan pas-pasan seperti tukang becak dan kuli panggung, naiknya harga Sembako menjadi pukulan tersendiri untuk mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari. Tidak aneh, jika mereka panas-panasan rela mengatre beli Sembako dengan harga Rp 10.000/paket yang digelar Kodim 0725/Sragen yang bekerja sama dengan Yayasan Elim Sragen.

Sebagaimana yang dirasakan Sukinem, 40, seorang kuli gendong dari Pasar Bunder. Dia setiap hari harus melakukan perjalanan dari Tangen yang berjarak lebih dari 10 kilometer hanya untuk bekerja sebagai kuli gendong.

Dalam sehari penghasilan Rp 20.000 sudah lebih dari cukup bagi keluarga sebelum harga naik. Dengan adanya pasar murah yang menjual paket Sembako seharga Rp 10.000, merupakan kesempatan yang langka bagi Sukinem dan teman seprofesinya.

Matur nuwun Pak. Sudah ada kegiatan pembagian Sembako. Meski harus antre tidak masalah, yang penting bisa mendapatkan Sembako dengan harga murah,” ujar Sukinem kepada salah satu aparat Kodim 0725/Sragen yang mengatur jalannya pengambilan paket sembako.

Sedikitnya ada 2.165 paket Sembako yang dibagikan kepada para tukang becak dan kuli pasar. Satu paket berisi dua kilogram beras, satu kilogram gula pasir, satu bungkus kecap, ½ kilogram minyak goreng. Satu paket Sembako tersebut biaya dijual di pasaran mencapai Rp 27.000.

Lantaran khawatir kehabisan paket Sembako, banyak para tukang becak dan kuli pasar yang berebut dan berdesak-desakan. Meskipun sudah ada peringatan bahwa semua yang memiliki kupon bakal kebagian Sembako, namun peringatan itu tak dihiraukannya. Satu orang bisa memiliki lebih dari satu kupon. Biasanya mereka dititipi teman atau tetangga.

“Sebelumnya memang sudah ada sosialisasi dan pembagian kupon bagi para tukang becak dan kuli pasar. Karena jumlahnya terbatas, maka hanya mereka yang benar-benar membutuhkan yang diberi kupon. Dengan demikian pembagian paket Sembako ini benar-benar tepat sasaran. Kalau dibuka untuk umum, maka siapa pun bisa beli, sehingga bisa salah sasaran,” tukas Komandan Kodim 0725/Sragen Letkol (Inf) Sugiyo yang kebetulan memberikan Sembako secara simbolis bagi perwakilan para tukang becak dan kuli pasar.

trh

Leave a Reply

Kolom

GAGASAN
Potensi Lokal untuk Kemandirian Desa

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat (11/8/2017). Esai ini karya Hadis Turmudi, mahasiswa Sekolah Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Surakarta dan sedang menulis tesis tentang desa dan otonomi asli. Alamat e-mail penulis adalah adis.mandiri@yahoo.com. Solopos.com, SOLO–Desa-desa di Nusantara yang berjumlah kurang…