Sabtu, 28 Agustus 2010 22:52 WIB Internasional Share :

Mahatir
Indonesia masih "sahabat" Malaysia

Kuala Lumpur--Mantan Perdana Menteri Malaysia Mahathir Mohamad menilai Indonesia tetap “sahabat” negaranya kendati pecah gelombang aksi anti-Malaysia pecah di Indonesia.

Terhadap aksi demonstrasi di Indonesia yang diwarnai dengan pembakaran dan peludahan terhadap bendera Malaysia, mantan orang nomor satu negeri jiran ini mengatakan, Malaysia berhak protes.

Mahathir mengatakan, tidaklah salah Malaysia memprotes apa yang diistilahkan Kantor Berita Bernama sebagai “pengotoran” bendera nasional oleh para demonstran di depan Kedubes Malaysia di Jakarta.

Ia mengatakan, para demonstran yang menggelar aksi “agresif” di Jakarta itu “hanyalah kelompok kecil yang dibayar untuk melakukan aksinya”.

“Kita bisa protes tapi kita jangan seperti mereka. Mereka terlalu agresif. Kita tidak bisa melakukan hal demikian,” katanya di Kuala Lumpur, Jumat.

Para pemimpin dan mantan pemimpin Malaysia kini mewacanakan bahwa aksi protes beragam elemen masyarakat Indonesia terhadap insiden 13 Agustus lalu itu dilakukan orang-orang bayaran.

PM Malaysia Najib Tun Razak juga menyampaikan tudingan yang sama. Ia mengatakan, rangkaian aksi demonstrasi di depan kedutaan besarnya di Jakarta dilakukan oleh apa yang disebutnya “para kelompok bayaran”.

Najib menuding para demonstran itu dibayar oleh pihak-pihak tertentu yang ingin mengganggu hubungan Malaysia dan Indonesia.

“Mereka ingin kita marah sehingga kalau ditanggapi, hubungan (kita) dengan Indonesia akan hambar. Kita tidak boleh terjebak dalam permainan mereka,” katanya.

Pernyataan yang disampaikan PM Najib kepada pers seusai memimpin pertemuan dengan Dewan Agung UMNO di “Putra World Trade Center (PWTC)” Kuala Lumpur itu ditujukan kepada para demonstran di Jakarta.

Sehari sebelumnya, sekitar 600 orang demonstran menggelar aksinya di depan Kedubes Malaysia di Jakarta.

Mereka mengutuk panangkapan dan penahanan polisi diraja Malaysia terhadap tiga petugas Departemen Kelautan dan Perikanan RI yang bertugas mengamankan perairan Tanjung Berakit milik RI dari pencurian ikan oleh tujuh nelayan Malaysia 13 Agustus lalu.

Aksi demonstrasi tersebut diwarnai dengan pembakaran bendera Malaysia.

PM Najib mengatakan dia tidak melihat aksi para demonstran itu mewakili sikap pemerintah RI karena hubungan kedua negara “sangat baik”.

Pemimpin Malaysia itu mengatakan, Dubes RI di Kuala Lumpur Da’i Bachtiar telah pun diminta untuk memberitahu pihak terkait di Indonesia agar memperketak pengamanan terhadap Kedubes Malaysia di Jakarta agar insiden yang sama tidak terjadi lagi.

Terkait dengan desakan berbagai pihak, termasuk anggota DPR-RI, agar Pemerintah Malaysia meminta maaf atas insiden 13 Agustus yang dipandang mereka sebagai penghinaan atas kedaulatan NKRI, Menlu Datuk Seri Anifah Aman justru menolak meminta maaf.

Sebaliknya, Menlu Malaysia ini justru mengecam aksi unjuk rasa di berbagai daerah di Indonesia dan mengeluarkan peringatan perjalanan bagi warganya yang hendak ke Indonesia.

Ant/nad

lowongan pekerjaan
Toko Cat Warna Abadi (WAWAWA), informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Karanganyar Makin Beradab

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu (18/11/2017). Esai ini karya Imam Subkhan, Ketua RT 001/RW 019, Jaten, Karanganyar. Alamat e-mail penulis adalah imamsubkhan77@gmail.com.   Solopos.com, SOLO–Sepulang sekolah, anak mbarep saya, Nadhifa, yang sekarang duduk di kelas IV sekolah dasar di…