Jumat, 27 Agustus 2010 09:48 WIB News Share :

Konfrontasi terbuka akan merugikan Indonesia

Jakarta–Usulan berkonfrontasi secara terbuka muncul jika memang diperlukan dalam kaitan permasalahan Indonesia dengan Malaysia. Meski begitu Indonesia perlu benar-benar matang mempertimbangkan hal itu dari segala aspeknya.

“Ruginya akan lebih banyak terutama kita telah merusak tatanan yang dibangun oleh masyarakat. Kita punya stigma sebagai bangsa yang tidak bisa mengendalikan diri,” ujar pengamat politik internasional dari UI, Hariyadi Wirawan PhD, Jumat (27/8).

Dari segi ekonomi, lanjut Hariyadi, banyak pekerja dari Malaysia yang bekerja di Indonesia terutama restoran Indonesia. Sementara ribuan tenaga kerja Indonesia bergantung kerja pada negeri jiran tersebut.

“Malaysia akan lebih punya daya tahan tinggi jika investasi ditarik. Namun jika di Indonesia, penarikan investasi tersebut akan goyah. Dalam negeri kita lebih rapuh dibandingkan mereka, pluralismenya lebih negatif dibanding Malaysia, kalau di Indonesia saling serang, menyalahkan,” ucapnya.

Menurut Hariyadi apa pun bentuknya konfrontasi, yang jelas merugikan kedua belah pihak. Sudah selayaknya memberikan kesempatan kepada Presiden dan jajaran Kementerian Luar negeri untuk terus menempuh jalur diplomasi yang elegan.

“Ada pihak-pihak yang tidak paham betul masalahnya, tapi memanas-manasi situasi. Beri kesempatan kepada Menlu, termasuk Presiden, mencari jalan keluar yang pantas dan layak. Civil society perlu mengontrol,” jelasnya.

dtc/rif

lowongan pekerjaan
Perusahaan Outsourcing PLN, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Bersama Rakyat Awasi Pemilu

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat (05/01/2018). Esai ini karya Ahmad Halim, Ketua Panitia Pengawas Pemilihan Umum Kota Administrasi Jakarta Utara. Alamat e-mail penulis adalah ah181084@gmail.com Solopos.com, SOLO–Pemberlakuan UU No. 7/2017 tentang Pemilihan Umum (gabungan UU No. 8/2012, UU…