Rabu, 25 Agustus 2010 16:34 WIB News Share :

Ingatkan polisi, mahasiswa Yogya malah dipukuli

Bantul–Sungguh sial nasib Mashono Rio Kertonegoro. Maksud hati ingin mengingatkan seorang polisi yang sedang ber-SMS ria saat mengendarai motor, mahasiswa Universitas Ahmad Dahlan (UAD) Yogyakarta itu malah dipukuli hingga babak belur.

Rio harus menginap di rumah sakit empat hari.

Peristiwa itu terjadi di Jalan Wonosari Km 12,5, Bantul, DIY pada Sabtu (21/8) lalu. Saat itu, Rio sedang mengendarai motor menuju rumahnya yang terletak di daerah Piyungan, sekitar pukul 16.30 WIB.

“Di situ banyak polisi yang habis menggelar razia itu lho. Nah salah satu polisi itu naik motor, menyeberang jalan, sambil tangan kirinya memegang handphone,” kata Rio saat berbincang dengan detikcom, Rabu (25/8).

Entah polisi itu sadar atau tidak, motor yang dikendarainya itu miring-miring dan hampir menabrak motor Rio. Karena kaget, Rio langsung mengerem mendadak hingga nyaris terjatuh.

Setelah berhasil mengembalikan keseimbangan, Rio kemudian menghampiri motor polisi tersebut. Rio mencoba mengingatkan agar lain kali polisi itu tidak mengendarai motor sambil ber-SMS ria.

“Saya bilangnya baik-baik. Saya cuma bilang, kalau SMS-an sambil naik motor itu membahayakan orang,” kata Rio menirukan kata-katanya waktu itu.

Menurut Rio, polisi itu membantah dirinya sedang SMS-an. “Saya cuma lihat jam kok,” kata polisi yang memakai rompi polisi itu ditirukan Rio.

Rio mengaku tidak habis pikir dengan polisi itu. Menurutnya, polisi tersebut mengenakan jam di tangan kirinya.

“Dia kan pakai jam tangan, ngapain lihat jam di HP,” kata Rio.

Melihat Rio yang menyinggung-nyinggung jam tangannya, polisi tersebut mulai kesal. “Lha terus kenapa?” tanya polisi itu kepada Rio.

Rio yang kesal akhirnya melaporkan polisi tersebut ke komandannya yang berada di pos polisi, tidak jauh dari tempatnya bersitegang dengan polisi tadi.

“Saya bilang, Pak Komandan, itu anak buah bapak kok tadi pakai handphone sambil naik motor, kan bahaya. Saya hampir tertabrak,” katanya.

Sang komandan lantas meminta Rio menunjukkan anak buahnya yang dimaksud. Tak lama, si polisi yang tadi bersitegang dengan Rio menghadap komandannya.

“Saya cuma lihat jam kok, Dan (Komandan),” begitu kata polisi itu seperti ditirukan Rio.

Rio kemudian mengatakan, polisi itu sudah memakai jam tangan. “Lagipula, kalau mau lihat jam, kenapa harus pas naik motor. Wong jarak dia naik motor sampai pos itu nggak jauh,” kata mahasiswa yang mengambil jurusan hukum itu.

Rio lalu menunjuk ke arah jam yang dipakai polisi itu di tangan kirinya. Namun tiba-tiba saja, tangannya dipegang oleh polisi itu dan disingkirkan.

“Lalu saya bilang ke komandannya, kok kasar gitu, Pak? Lalu tiba-tiba saya dipukul dari belakang oleh polisi tadi,” cerita Rio.

Rio yang kaget sekaligus kesakitan, berbalik menghadap polisi tadi. Belum sempat Rio berkata-kata, sekitar lima polisi lainnya sudah memukulinya dari belakang. Bak! Buk! Bak! Buk! Rio pun babak belur.

“Tiba-tiba saya diseret sama Komandannya. Saya dibawa ke ruangan dan ruangan itu dikunci. Di dalam, saya diinterogasi, ditanyai nama, alamat dan sebagainya,” kata Rio.

Rio akhirnya diperbolehkan pulang setelah diinterogasi. Sambil menahan sakit, Rio langsung pulang menuju rumahnya. “Bapak saya langsung bilang, kita ke rumah sakit,” cerita Rio.

Rio pun dibonceng ayahnya, Sahana, menuju RS Hidayatullah di kawasan Gambiran, Yogyakarta. Di rumah sakit itu, Rio sekalian divisum.

“Pas lagi menuju rumah sakit, kami sempat dicegat oleh Komandan polisi yang tadi. Tapi bapak saya diam saja, langsung pergi ke rumah sakit,” katanya.

Rio dirawat di RS Hidayatullah hingga Selasa (24/8) kemarin. Selain luka memar di sekujur tubuh, Rio juga sempat muntah-muntah sehingga dokter sempat menduganya gegar otak.

Kasus Rio telah dilaporkan ke Polsek Piyungan. Namun kini, kasusnya ditangani oleh Polres Bantul.

dtc/nad

Bagian Sirkulasi SOLOPOS, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Leave a Reply

Kolom

GAGASAN
Jangka Kamardikan

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Selasa (15/8/2017), karya Bandung Mawardi dari Bilik Literasi. Alamat e-mail bandungmawardi@gmail.com. Solopos.com, SOLO–Setahun setelah peristiwa bersejarah, proklamasi kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945, terbit buku berjudul Djangka Djajabaja Sempoerna dengan Peristiwa Indonesia Merdeka garapan…