Selasa, 24 Agustus 2010 22:19 WIB Solo Share :

Tak ada masjid, warga relokasi tarawih di rumah

Solo (Espos)–Warga relokasi yang tinggal di kawasan Solo Elok, Mojosongo, Jebres, terpaksa Salat Tarawih berjamaah di rumah salah seorang warga sepanjang Ramadan ini menyusul tak adanya masjid atau musala.

Mereka berharap ada bantuan pengadaan tempat ibadah, baik dari pemerintah maupun masyarakat. Berdasar informasi yang dihimpun Espos, warga Solo Elok biasanya menjalankan Salat Tarawih dan Witir di kediaman warga bernama Sutarman. Hampir tiap malam di bulan puasa ini, sedikitnya 30 warga menunaikan salat di rumah Sutarman. Ketua Sub Pokja Relokasi IV Solo Elok, Siswo Supatmo, 60, menjelaskan, telah ada donatur yang akan menghibahkan tanah di Solo Elok seluas 100 meter persegi.

Lahan tersebut berada di kawasan relokasi Solo Elok dan selama ini tidak digarap pemiliknya bernama Bambang. “Kami telah bertemu dengan Pak Bambang. Dia bersedia menghibahkan tanah seluas 100 meter persegi untuk lokasi pembangunan masjid,” ujarnya, Selasa (24/8).

Siswo melanjutkan, pihaknya telah melaporkan rencana pembangunan masjid kepada pengurus rukun tetangga (RT) dan rukun warga (RW) setempat. Dalam waktu dekat warga juga akan melaporkan rencana pembangunan masjid kepada Lurah Mojosongo, Sri Wahyono.

Di sisi lain, rencana pembangunan masjid terganjal belum adanya dana. Warga berharap ada donatur yang akan membantu pembangunan masjid. Jumlah warga relokasi Solo Elok saat ini sekitar 89 keluarga. Mereka berasal dari bantaran sungai di Kelurahan Pucangsawit, Jebres.

kur

Leave a Reply

Kolom

GAGASAN
ISI Bukan Kampus Zombi

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu (23/8/2017). Esai ini karya Aris Setiawan, dosen di Institut Seni Indonesia (ISI) Solo. Alamat e-mail penulis adalah segelas.kopi.manis@gmail.com Solopos.com, SOLO — Institut Seni Indonesia (ISI) Solo segera dipimpin rektor baru. Rektor Sri Rochana Widyastutieningrum…