Selasa, 24 Agustus 2010 13:18 WIB Karanganyar Share :

Kulit bersisik, Raihan butuh uluran tangan

Sekilas tak ada yang berbeda pada diri Raihan Putra Mahardika, anak Balita 2 tahun tujuh bulan itu ketika bermain dengan teman sebayanya. Tetap aktif dan ceria, meskipun anak pasangan Tri Suwanto, 27 dan Lestari, 26, warga RT 6/RW 11 Ngringo, Kecamatan Jaten, Karanganyar ini memiliki kelainan genetika, yaitu kulit bersisik.

Ya, hampir seluruh kulit di tubuhnya bersisik. Tak ada yang mengira kelahiran Raihan tanggal 10 Januari 2008 silam di Rumah Sakit PKU Muhammadiyah Solo akan terlahir dalam kondisi cacat. Berbagai upaya pengobatan telah ditempuh, namun kondisi Raihan tetap tidak mengalami perubahan yang signifikan.

Bahkan ayahnya yang hanya bekerja sebagai buruh pabrik dan istrinya buruh serabutan ini sudah habis-habisan untuk membiayai pengobatan Raihan. Mulai pengobatan medis maupun alternatif telah dijalani. Menurut penuturan Lestari ketika dijumpai Espos di kediamannya, Senin (23/8), kondisi Raihan sejak lahir sudah menunjukkan kelainan. Menurut keterangan dokter yang menangani proses kelahirannya saat itu, Raihan mengalami kelainan genetika.

Raihan yang lahir dengan berat 2,4 kilogram (kg) dan panjang badan 49 sentimeter bahkan terpaksa ditempatkan di ruang isolasi karena saat lahir tubuhnya berwarna coklat dan seperti terbungkus plastik. “Saat itu bahkan kondisi kedua mata Raihan tidak bisa dipejamkan. Karena tertarik kulit atas kepala,” ujarnya.

Kini, Lestari menambahkan kondisi kedua mata Raihan perlahan-lahan mulai  bisa dipejamkan. Kondisi kulitnya yang semula hampir seluruhnya bersisik pun mulai berangsur-angsur halus seperti kulit anak-anak yang lainnya. “Ini setelah saya dan suami telaten memberikan obat yang diberikan dokter,” katanya.

Obat tersebut ada beberapa jenis, yaitu berupa sabun mandi, vitamin kulit dan body lotion khusus untuk anak yang memiliki cacat kelainan genetik. Namun karena ketiadaan kemampuan, Lestari hanya mampu membelikan dua jenis obat sesuai resep dokter, yaitu sabun mandi dan body lotion. “Itupun total per bulan untuk membeli obat sampai Rp 800.000,” katanya.

Padahal, Lestari mengatakan obat itu harus secara terus-menerus diberikan. Jika telat tidak diberikan satu hari saja, Lestari mengatakan kondisi kulit anaknya semakin parah. Bahkan Raihan mengalami panas yang berlebihan. “Sekarang kami mulai bingung mau cari utangan ke mana lagi untuk membeli obat. Kami berdua hanya buruh biasa.”

Dirinya juga sudah mengajukan masuk dalam daftar penerima jaminan kesehatan masyarakat miskin (Jamkesmas) melalui Puskesmas setempat sekitar satu setengah tahun yang lalu. Namun hingga kini tidak juga terdaftar dalam penerima Jamkesmas. Pihak Puskesmas beralasan karena adanya pergantian Menteri Kesehatan lah Raihan tidak masuk dalam penerima Jamkesmas.

Indah Septiyaning Wardani

Leave a Reply

Kolom

GAGASAN
Pendidikan yang Memerdekakan

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin (21/8/2017). Esai ini karya Mohamad Ali, Ketua Program Studi Pendidikan Agama Islam Universitas Muhammadiyah Surakarta dan pengasuh Perguruan Muhammadiyah Kota Barat, Solo. Alamat e-mail penulis adalah ma122@ums.ac.id. Solopos.com, SOLO–Memasuki umur 72 tahun kemerdekaan…