Senin, 23 Agustus 2010 15:58 WIB News Share :

Tolak Rusunawa, warga Cabean mengadu ke DPRD

Salatiga (Espos)–Menolak rencana pembangunan rumah susun sederhana sewa (Rusunawa) oleh Pemkot di wilayah mereka, belasan perwakilan warga RT 03 dan 04/RW 12, Dusun Cabean, Kelurahan Mangunsari, Kecamatan Sidomukti, Salatiga, Senin (23/8), mengadu ke DPRD setempat.

Warga melalui DPRD meminta agar Pemkot mengalihkan lokasi Rusunawa, jika bersikeras ingin membangunnya.

Perwakilan warga RT 03, Benny Ridwan, mengaku pihaknya mempertanyakan alasan Pemkot memilih di Dusun Cabean sebagai lokasi Rusunawa. Karena jika ditinjau dari segi tanah pemerintah (bengkok), menurut Benny, ada kelurahan lain yang memiliki tanah bengkok lebih luas ketimbang di Mangunsari.

“Kalau alasannya wilayah padat, Kelurahan Gendongan memiliki jumlah penduduk yang lebih padat. Jika peruntukkannya bagi kaum menengah ke bawah seperti buruh, maka kebanyakan buruh berada di wilayah Kecamatan Tingkir,” papar Benny saat ditemui di gedung Dewan.

Dari audiensi terungkap beberapa hal yang menjadi kekhawatiran warga soal dampak pembangunan Rusunawa. Di antaranya adalah mempengaruhi kondusifitas warga Cabean yang sudah terbangun selama ini dan kehidupan sosial masyarakat.

Benny menambahkan, beberapa kasus yang muncul sebagai dampak pembangunan Rusunawa adalah kumuh, penyimpangan dalam pembangunan, mangkrak lantaran sepi peminat dan sewa di atas sewa.

“Kami juga mempertanyakan apakah Salatiga sudah butuh Rusunawa? Kami tidak menolak, tapi kami minta dibangun di wilayah lain,” sambung Benny. Berdasarkan data BPS tahun 2008, kepadatan penduduk Kota Salatiga 2.703 jiwa/km2.

Menanggapi keluahan warga, Kepala Dinas Tata Kota (DTK) Kota Salatiga, Tedjo Supriyanto, mengaku jika sosialisasi dilakukan secara mendadak lantaran kepastian anggaran pembangunan Rusunawa dari pusat juga baru bisa dipastikan pada Juli lalu.
Terlebih lagi kepastian desain bangunan Rusunawa dari Ditjen Cipta Karya pun, lanjutnya, baru diperoleh pada awal Agustus ini. “Rusunawa ini dibangun dengan anggaran pusat, banyak daerah lain yang mengajukan tapi ditolak,” sambung Tedjo.
Pemilihan Cabean sebagai lokasi Rusunawa, imbuhnya, ditentukan oleh pusat dari lima lokasi yang ditawarkan Pemkot.

Sementara Ketua DPRD, Teddy Sulistyo, meminta warga bisa berpikir secara makro dengan mempertimbangkan kepentingan yang lebih luas. Menyangkut kekhawatiran warga tentang dampak buruk dari keberadaan Rusunawa, menurut dia, perlu ada kajian khusus untuk mengeliminasinya.

Warga Cabean akhirnya mau menerima rencana pembangunan Rusunawa tersebut setelah dari hasil audiensi disepakati akan ada kompensasi kepada warga. Kompensasi dimaksud berupa pembangunan jalan alternatif. Anggarannya direncanakan diambil dari perubahan APBD 2010, kalau tidak bisa akan dialokasikan di APBD 2011.

kha

lowongan pekerjaan
CV.Indra Daya Sakti, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Masyarakat Tertutup Era Keterbukaan

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin (9/10/2017). Esai ini karya Ichwan Prasetyo, jurnalis Solopos. Alamat e-mail penulis adalah ichwan.prasetyo@solopos.co.id. Solopos.com, SOLO–Masyarakat tertutup mempertahankan keberadaannya melalui ketaatan mutlak kepada perintah yang diyakini benar, terlepas dari apakah kebenaran itu sudah diuji…