Sabtu, 21 Agustus 2010 15:01 WIB News Share :

Pembunuhan jurnalis oleh massa, modus teror baru

Jakarta–Kasus pengeroyokan dan pembunuhan terhadap Ridwan Salamun, merupakan modus teror baru terhadap jurnalis. Sangat disesalkan, pelaku teror itu adalah warga yang sebenarnya mendapat manfaat dari kebebasan pers.

“Ini kasus luar biasa menakutkan. Ini bukan seperti kita terkena peluru nyasar pada saat meliput perang lho,” kecam Ketua Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI), Imam Wahyudi, Sabtu (21/8).

Berdasar informasi yang berhasil dikumpulkan IJTI, kuat dugaan aksi pengeroyokan dan pembunuhan itu dilakukan dengan penuh kesengajaan dan kesadaran oleh para pelakunya. Berawal dari seseorang yang membentak dan seketika Ridwan kerubuti massa.

“Jadi ada yang mengarahkan, ada kesengajaan. Ridwan dikeroyok dan dibacok oleh massa pada saat dia menjalankan tugas meliput fakta. Lalu dibiarkan tergeletak sampai 2 jam sampai meninggal dunia, sebab warga yang lain takut,” geram Imam.

Jurnalis televisi senior ini menyesalkan indikasi, pelaku pengeroyokan adalah warga. Padahal manfaat kebebasan pers adalah untuk masyarakat.

“Dia dibunuh oleh massa. Ini ancaman bagi kebebasan pers, padahal kebebasan pers untuk masyarakat,” tegas Imam.

dtc/nad

SOLO BAKERY, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Leave a Reply

Kolom

GAGASAN
Dirawat dan Merawat Cendekiawan Soedjatmoko

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu (19/8/2017). Esai ini karya Nur Fatah Abidin, mahasiswa Magister Pendidikan Sejarah Universitas Sebelas Maret. Alamat e-mail penulis adalah ikbenfatah@gmail.com. Solopos.com, SOLO–Pada Rabu, 15 Agustus 2017, pemerintah menganugerahkan tanda kehormatan Republik Indonesia kepada delapan…