Sabtu, 21 Agustus 2010 14:27 WIB News Share :

Fadel
Penanganan batas negara masih lemah

Jakarta— Menteri Kelautan dan Perikanan Fadel Muhammad menyatakan, Indonesia tidak hanya sering bersitegang dengan Malaysia soal tapal batas negara. Namun juga dengan negara lain seperti Vietnam, Cina, dan Thailand.

“Contoh waktu insiden dengan Thailand, kita malah menenggelamkan kapalnya, sehingga menimbulkan kehebohan di Thailand. Jadi memang sering terjadi,” kata Fadel dalam diskusi Trijaya bertajuk ‘Indonesia-Malaysia: Serumpun Tapi Tak Rukun’ di Warung Daun Cikini, Jakarta Pusat, Sabtu (21/8).

Selat Malaka, ujar Fadel, sering menjadi tempat terjadinya berbagai insiden laut karena perbatasan wilayah antarnegara di sana terlalu tipis.

Oleh karena itu, Fadel mengakui bahwa penanganan batas wilayah dan manajemen kelautan di Indonesia memang perlu diperbaiki, karena ada kelemahan. “Secepatnya perlu diperbaiki masalah batas wilayah negara ini,” tuturnya.

Insiden laut di perairan Indonesia kembali terjadi setelah lima kapal Malaysia melakukan illegal fishing (penangkapan ikan secara ilegal) di dekat Tanjung Berakit, Pulau Bintan.

Patroli Pengawas Perikanan setempat kemudian menangkap tujuh nelayan Malaysia yang menangkap ikan di perairan Indonesia tanpa dokumen izin, dan mengawal mereka bersama kelima kapalnya ke pangkalan terdekat di Batam. Namun satu jam kemudian dalam perjalanan menuju Batam, terjadilan insiden serius.

Kapal Patroli besar milik Malaysia datang dan menghadang rombongan tersebut. Mereka meminta semua kapal dan nelayan Malaysia dilepaskan. Setelah adu argumen antara pihak Pengawas Perikanan Indonesia dan Kapten Kapal Patroli Malaysia, Kapal Patroli Malaysia justru memberikan tembakan peringatan dua kali.

Kapal Patroli Malaysia kemudian menggiring kelima kapal Malaysia tersebut kembali ke Johor Baru dengan tiga orang Pengawas Perikanan Indonesia di atas kapal tersebut.

Sementara ketujuh nelayan Malaysia yang melakukan illegal fishing diserahkan ke Polres Batam untuk menjalani proses penyidikan dibantu oleh Polda Kepulauan Riau.

Kini, ketiga Pengawas Perikanan Indonesia dari Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) itu telah dikembalikan ke Indonesia, sementara ketujuh nelayan Malaysia yang melakukan illegal fishing pun telah dipulangkan kembali ke Malaysia, setelah melalui proses barter.

Tapi, baik Kementerian Luar Negeri maupun Kementerian Kelautan dan Perikanan membantah telah melakukan itu.

vivanews/rif

Harian Umum SOLOPOS, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Leave a Reply

Kolom

GAGASAN
Jangka Kamardikan

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Selasa (15/8/2017), karya Bandung Mawardi dari Bilik Literasi. Alamat e-mail bandungmawardi@gmail.com. Solopos.com, SOLO–Setahun setelah peristiwa bersejarah, proklamasi kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945, terbit buku berjudul Djangka Djajabaja Sempoerna dengan Peristiwa Indonesia Merdeka garapan…