Kamis, 19 Agustus 2010 15:42 WIB News Share :

Syaukani dapat grasi 3 tahun karena sudah seperti mayat

Jakarta –– Faktor kemanusiaan merupakan salah satu pertimbangan Mahkamah Agung (MA) ketika mengajukan permintaan grasi bagi para terpidana kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Termasuk pengurangan 3 tahun penjara yang diberikan kepada mantan Bupati Kutai Kertanegara, Syaukani HR.

“Yang jelas MA bilang hukuman dikurangi segini pasti ada pertimbangan kemanusiaan. Syaukani badannya sudah macam mayat, dia dalam kondisi sakit,” kata Menkum HAM, Patrialis Akbar, di Gedung DPD, Senayan, Jakarta, Kamis (19/8).

Dengan menerima grasi 3 tahun, Syaukani HR hanya menjalani separo total masa hukumannya. Sebenarnya setelah masa hukumannya dikurangi 3 tahun, maka terpidana kasus korupsi dana APBD Kutai Kertanegara yang merugikan negara Rp 40,75 miliar itu sudah bisa meninggalkan penjara pada Maret 2010.

“Tapi dia baru keluar penjara tadi malam, sebab grasinya baru ditandatangani kemarin,” sambung Patrialis.

Lebih lanjut dia menjelaskan, di dalam mekanisme pemberian grasi bagi terpidana, peran Presiden SBY sebatas menindaklajuti masukan dan pertimbangan dari Mahkamah Agung. Termasuk grasi sebesar 3 tahun yang diterimakan kepada mantan bupati Kutai Kertanegara, Syaukani HR, yang resmi berstatus nara pidana pada Maret 2007.

“Pemberian grasi atas pertimbangan MA, presiden dan pemerintah sebatas menindak lanjuti. Masa presiden tidak mau tandatangani?” ujar Patrialis menanggapi protes yang menyebut grasi bagi Syaukani terlalu besar.

dtc/tya

lowongan pekerjaan
SUMBER BARU REJEKI, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Urgensi Mendesain Ulang Prolegnas

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu (14/2/2018). Esai ini karya Isharyanto, dosen Hukum Tata Negara di Universita Sebelas Maret. Alamat e-mail penulis adalah isharyantoisharyanto8@gmail.com.  Solopos.com, SOLO–Sidang paripurna DPR di ujung 2017 lalu dibuka dengan laporan 50 rancangan undang-undang (RUU)…