Rabu, 18 Agustus 2010 11:42 WIB News Share :

Jalur pendakian ke puncak Semeru ditutup

Lumajang–Setelah digunakan untuk upacara 17 Agustus oleh para pendaku, jalur pendakian menuju ke puncak Gunung Semeru yang memiliki ketinggian 3.676 meter dari permukaan laut (mdpl), Rabu (18/8), ditutup dan pendakian dibatasi hingga pos Kalimati.

Kepala Bidang Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) WIlayah II di Lumajang, Anggoro Dwi Sujiharto, mengatakan, jalur pendakian menuju puncak Semeru hanya diperbolehkan untuk upacara Agustusan, selama dua hari (16-17) Agustus 2010.

“Seluruh pendaki yang melakukan upacara harus turun dari puncak Semeru maksimal pukul 10.00 WIB untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan seperti letusan kecil, semburan batuan vulkanik dan debu dari kawah Jonggring Saloko,” tuturnya menjelaskan.

Sebanyak 160 pendaki melakukan upacara Agustusan pada Rabu (17/8) dengan pengawalan yang ketat dari petugas TNBTS bersama anggota tim SAR Kabupaten Lumajang.

TNBTS, lanjut dia, hanya memperbolehkan pendaki naik ke puncak Semeru pada acara tertentu seperti upacara Agustusan karena mendapat rekomendasi dari Badan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) di Bandung dan BMKG.

“Sejak hari ini, pendaki dilarang naik ke puncak Semeru dan jalur pendakian dibatasi hingga pos Kalimati yang memiliki ketinggian 2.700 mdpl,” kata Anggoro.

Jalur pendakian Gunung Semeru dibuka sejak 12 Mei 2010 karena kondisinya dinyatakan aman untuk para pendaki, pembukaan jalur pendakian tersebut juga sudah mendapatkan rekomendasi dari PVMBG.

“Pendakian hanya sampai pos Kalimati karena kemungkinan lava pijar turun sepanjang 500 meter dari bibir kawah, banyak rambu-rambu yang hilang dari Kalimati hingga puncak Semeru dan robohnya pohon cemara tunggal,” paparnya.

Ia mengimbau kepada pendaki untuk mematuhi rekomendasi TNBTS tentang batas pendakian ke Semeru yakni pos Kalimati demi keselamatan para pendaki.

ant/rif

lowongan pekerjaan
sales, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Sapa Salah Seleh

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat (17/11/2017). Esai ini karya Tito Setyo Budi, esais, sastrawan, dan budayawan yang tinggal di Sragen. Alamat e-mail penulis adalah titoesbudi@yahoo.com Solopos.com, SOLO–Ada pepatah tua dalam khazanah budaya Jawa, yaitu sapa salah seleh. Artinya,…