internet
Senin, 16 Agustus 2010 12:37 WIB Hukum Share :

Hakim tolak eksepsi Sjahril Djohan

Jakarta–Perkara mafia hukum Gayus Tambunan dengan terdakwa Sjahril Djohan dilanjutkan pekan depan dengan agenda pemeriksaan saksi-saksi. Hal ini setelah Pengadilan Negeri Jakarta Selatan (PN) menolak eksepsi Sjahril Djohan, Senin (16/8).

Dalam sidang, salah satu hakim, Sudarwin sempat menjelaskan bahwa penggunakan kata ‘saksi mahkota’ diakui. Hal ini didasarkan pada aturan Mahkamah Agung (MA). Inti aturan ini, kata dia, terdakwa pada perkara yang sama bisa saja berlaku sebagai saksi.

Usai sidang, pengacara Sjahril Djohan, Hotma Sitompul menyatakan ada kejanggalan dengan istilah saksi mahkota ini. Pasalnya, kata dia, ada putusan MA yang mengatakan saksi mahkota tidak dibolehkan.

Selain itu, pengacara minta agar saksi-saksi yang hadir sesuai urutan. “Karena itu kami minta diberi tahu siapa saja saksi-saksi yang akan dihadirkan.”

Dalam eksepsi, pengacara Sjahril Djohan, Hotma Sitompul mengungkapkan jasa Sjahril Djohan yang berulang kali mengungkap kasus-kasus besar termasuk kasus korupsi. Sehingga pengacara mengklaim kliennya sebagai whistle blower.

Sjahril mengaku telah diminta Haposan Hutagalung, pengacara Gayus, untuk menyampaikan pesan kepada mantan Kepala Badan Reserse dan Kriminal, Komjen Susno Duadji — bahwa Susno akan menerima dana sebesar Rp 3 miliar dalam kasus Gayus Tambunan. Sjahril pun diduga memberikan uang Rp 500 juta kepada Susno.

vivanews/rif

lowongan pekerjaan
PT. PERINTIS KARYA SENTOSA, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Sapa Salah Seleh

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat (17/11/2017). Esai ini karya Tito Setyo Budi, esais, sastrawan, dan budayawan yang tinggal di Sragen. Alamat e-mail penulis adalah titoesbudi@yahoo.com Solopos.com, SOLO–Ada pepatah tua dalam khazanah budaya Jawa, yaitu sapa salah seleh. Artinya,…