Minggu, 15 Agustus 2010 12:53 WIB Issue Share :

Yoko Ono marahi wartawan saat jumpa pers

Jakarta–Yoko Ono, janda John Lennon, tersinggung berat dengan pertanyaan seorang wartawan. Ia pun memarahi sang wartawan habis-habisan. Sang wartawan menanyakan mengapa Yoko masih tinggal di apartemen yang merupakan lokasi Lennon tewas ditembak.

Yoko berada di Los Angeles, seperti dilansir contactmusic, Minggu (15/8) untuk mempromosikan film dokumenter terbaru tentang John Lennon. Dalam acara itu, seorang wartawan memberikan pertanyaan yang melukai hati Yoko. Pemburu berita itu bertanya mengapa Yoko masih tinggal di Dakota Building, New York setelah 30 tahun kematian Jonh Lennon.

Seperti diketahui John Lennon ditembak di lorong pintu masuk The Dakota oleh Mark david Chapman pada 8 Desember 1980. Saat itu Lennon baru saja kembali dari Record Plant Studio dengan Yoko. Chapman memberondong Lennon dengan 5 tembakan. Satu tembakan meleset, sementara empat tembakan lainnya menyebabkan Lennon tewas.

Yoko menganggap pertanyaan itu sang wartawan rasis dan sexist. Bagi Yono, seharusnya merupakan hal yang wajar bila seseorang tetap tinggal di rumah yang ditempati bersama sang pasangan meskipun pasanganya sudah meninggal.

“Aku pikir orang bertanya mengapa kamu masih tinggal di Dakota? Aku pikir itu pertanyaan yang sedikit rasis dan mungkin sexist. Sebab aku yakin banyak orang
tinggal di rumah mereka sendiri, tempat mereka berbagi dengan pasangannya, meskipun sang pasangan sudah meninggal sebab ada banyak kenangan di tempat yang kamu bangun bersama pasangan. Aku akan tetap tinggal dan tidak akan pindah ke rumah yang asing bagiku,” kata Yoko.

Mendapat jawaban seperti itu sang wartawan pun malu. Namun perempuan kelahiran Tokyo, Jepang itu tidak mau berhenti sampai di situ. Ia terus memarahi sang wartawan. Ia menuduh sang wartawan bersikap rasis karena memiliki persepsi yang keliru tentang tradisi budaya yang dianut Yoko.

“Tunggu sebentar, aku mau menjawab lebih lengkap pertanyaan yang rasis dan sexist itu. Masalahnya adalah ketika seseorang seperti saya, yang mungkin bukan bagian dari budayamu, kamu pikir, mengapa ia masih tinggal di sana, jika dia (menganut budaya) kami pasti tidak akan tinggal di sana. Well, kamu berpikir mungkin sebab ia (Yoko) mempunyai tradisi yang berbeda sehingga tidak peduli dengan kenyataan bahwa John tewas di sana,” lanjut Yoko.

Sang wartawan juga disebut Yoko bersikap sexist. Pertanyaan menyakitkan seperti itu tidak akan diajukan bila Yoko adalah laki-laki.

“Hal lainnya adalah, masalah gender. Sebab aku tahu bila aku adalah laki-laki tidak akan ada yang bertanya seperti itu. Bila aku laki-laki dan tetap tinggal di apartemen itu tidak akan ada satupun yang memberi komentar. Bila kamu laki-laki tidak akan ada yang berkomentar bila kamu tinggal di rumah pelacuran setelah istrimu meninggal. Maaf,” kata Yoko.

dtc/ tiw

lowongan pekerjaan
Juara Karakter Indonesia, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Bersenang-Senang

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin (13/11/2017). Esai ini karya Sholahuddin, Manajer Penelitian dan Pengembangan Harian Solopos. Alamat e-mail penulis adalah sholahuddin@solopos.co.id. Solopos.com, SOLO–Belakangan ini terjadi perubahan secara radikal pada lanskap ekonomi dan bisnis di Indonesia. Sektor bisnis konvensional…