Minggu, 15 Agustus 2010 22:30 WIB Boyolali Share :

Kenaikan harga cabai tak dinikmati petani

Boyolali (Espos)–Kenaikan harga cabai merah dalam waktu sebulan terakhir ternyata tak begitu mempengaruhi penghasilan petani.

Sejumlah petani cabai di Kecamatan Ngemplak, Boyolali menyatakan harga cabai merah yang dipatok para tengkulak jauh lebih rendah dari harga jual di sejumlah pasar. Harga cabai besar merah dan keriting di sejumlah pasar tradisional berkisar Rp 30.000-Rp 40.000 per kilogram (kg).

Petani cabai asal Desa Dibal, Ngemplak, Siti Markamah, 35, mengatakan tengkulak yang membeli hasil panen cabainya, memasang harga Rp 23.000-Rp 25.000 per kg. Harga dari tengkulak hanya naik sekitar Rp 1.000-Rp 5.000 dibanding ketika harga cabai belum melonjak atau masih dalam kisaran kurang dari Rp 20.000 per kg. “Meski harga cabai di pasar naik, namun tengkulak hanya menaikkan harga sekitar Rp 1.000-Rp 2.000 per kg saja. Paling tinggi naik Rp 5.000 per kg,” papar Siti Markamah ketika dijumpai Espos, Minggu (15/8), di Desa Dibal.

Markmah menambahkan, biasanya tengkulak langsug mendatangi rumah petani cabai ketika ingin membeli cabai. Setelah itu, cabai yang dibeli dari petani, mereka setorkan kepada pedagang di beberapa  pasar.  “Tentunya kecewa dengan keadaan ini. Karena jenjang harga cabai di tingkat petani dengan pedagang terlalu jauh. Kalau bisa, agak diseimbangkan. Agar petani untung,  tengkulak dan pedagang juga tetap untung. Di samping itu, konsumen tidak terlalu terbebani,” imbuhnya.

Hasil jual ke tengkulak itupun masih akan dipotong dengan ogkos produksi. Seperti biaya untuk pembelian pupuk, obat antihama, dan upah tenaga kerja. Terlebih lagi ketiga unsur di atas juga tak terhindar dari kenaikan, seperti kenaikan upah tenaga kerja yang melambung menjadi Rp 30.000-Rp 40.000 per hari.

Terpisah, petani cabai asal Desa Gagaksipat, Ngemplak, Dasuki yang mengelola tanaman cabai di lahan seluas 3.500 meter persegi berharap, harga cabai bisa menguntungkan petani. “Kalau harga di pasar naik tinggi, tapi di tingkat petani tetap rendah ya… tak ada untungnya bagi kami,” pungkas Dasuki.

hkt

lowongan pekerjaan
PT. TUMBAKMAS NIAGASAKTI, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Generasi Milenial dan Politik

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Selasa (14/11/2017). Esai ini karya Lukmono Suryo Nagoro, editor buku yang tinggal di Kota Solo. Alamat e-mail penulis adalah lukmono.sn@gmail.com. Solopos.com, SOLO–Baru-baru ini lembaga think tank yang bermarkas di Tanah Abang, Jakarta, Centre for…