Minggu, 15 Agustus 2010 10:08 WIB News Share :

700 Pendaki rayakan HUT RI di puncak Mahameru

Lumajang–Meski bersamaan dengan Ramadan, tak menyurutkan niat para pendaki asal Pulau Jawa dan luar Jawa untuk tetap menggelar kegiatan rutin yaitu upacara bendera memperingati HUT ke-65 RI di puncak Gunung Semeru pada tanggal 17 Agustus mendatang.

Kegiatan tahunan yang diikuti ribuan pendaki, akan didampingi tim pemandu dari vulkanologi dan juga personel pemandu lain dari SAR Lumajang, Kesbangpol, Satlak PB dan pihak Pos Ranupane. Ini untuk menghindari hal-hal yang tak diinginkan.

Selama di puncak, para pendaki akan diberikan aba-aba dan kewaspadaan, kapan upacara harus selesai untuk segera turun ke pos berikutnya. Pasalnya, kondisi vulkanik di puncak semeru sangat berbahaya karena kerap menyembur gas beracun.

“Untuk hal itu, menjadi tupoksi dari pihak vulkanologi. Paling tidak, upacara hanya dilakukan beberapa puluh menit saja sebelum kemudian para pendaki diperintahkan turun kembali. Pendampingan disiapkan karena pendaki akan memasuki areal berbahaya,”  kata Sekretaris Satlak PB (Penanggulangan Bencana) Lumajang Rochani, ketika dikonfirmasi, Minggu (15/8).

Dari Rakor itu, disampaikan juga bahwa pihak vulkanologi melarang pendaki memasuki areal berbahaya dalam radius 1 kilometer dari puncak kawah gunung yang berstatus waspada.

Meski kuota pendaki hanya dibatasi total 700 orang pendaki saja, namun dia menyakini jumlah pendaki yang akan berada di seputaran gunung Semeru untuk menggelar upacara Agustusan jumlahnya mencapai ribuan.

“Kuota yang disampaikan pihak Balai Besar TNBTS hanya total berjumlah 700 orang pendaki saja. Yakni, terdiri dari 600 orang pendaki dari Pulau Jawa dan 100 orang lain dari luar jawa. Para pendaki sudah bisa mendaftarkan diri dan meminta izin ke Pos Ranu Pane sebelum melakukan pendakian ke puncak,” tuturnya.

Di puncak Arcopodo, tim vulkanologi akan menunggu untuk memberikan informasi setiap saat terkait keamanan di titik berbahaya puncak semeru.

“Tim vulkanologi akan terus berkoordinasi dngean pos pantau di Gunung Sawur. Jika sewaktu-waktu situasinya berbahaya, maka pendakian bisa dibatalkan.  Hal ini untuk menjaga keamanan dalam pendakian Agustusan ini,” ujarnya.

dtc/ tiw

lowongan pekerjaan
garment, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Sapa Salah Seleh

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat (17/11/2017). Esai ini karya Tito Setyo Budi, esais, sastrawan, dan budayawan yang tinggal di Sragen. Alamat e-mail penulis adalah titoesbudi@yahoo.com Solopos.com, SOLO–Ada pepatah tua dalam khazanah budaya Jawa, yaitu sapa salah seleh. Artinya,…