Sabtu, 14 Agustus 2010 11:48 WIB Hukum Share :

Masalah ekonomi, seorang ibu jual bayi Rp 300.000

Lombok–Beralasan mengalami kesulitan ekonomi yang cukup berat, Baiq Suryani, 38, tega menjual bayi yang baru dilahirkannya dua hari lalu. Warga Desa Jenggik, Kecamatan Kopang, Lombok Tengah NTB ini menjual bayi perempuannya dengan harga Rp 300.000.

Suryani menjual bayi itu kepada Kajep, warga Desa Beleka, Janapria, Lombok Tengah.
Bayi itu dijual dengan perantara Kahar, warga Semparu, Kecamatan Kopang. Polisi kemudian menangkap Suryani Sabtu (14/8) dini hari selepas sahur.

Ia ditangkap di kawasan wisata Senggigi, Lombok Barat. Suryani bekerja serabutan sebagai pembantu rumah tangga. Kepada polisi, Suryani mengaku kepepet. Ia memiliki anak lima orang. Sementara suaminya meninggalkannya sejak hamil anak kelima. Sehabis melahirkan di seorang dukun di Senggigi, Suryani tak tahu lagi harus berbuat apalagi selain menjual anaknya.

”Sementara kami sudah mengamankan tiga orang. Selain Suryani kami mengamankan dua orang yang membeli bayinya. Kami masih periksa intensif,” kata Ajun Komisaris Musa, Kasat Reskrim Polres Lombok Tengah pada detikcom melalui sambungan telepon, Sabtu (14/8) pagi.

Suryani kini mendekam di tahanan Polres Lombok Tengah untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya. Sementara polisi menitipkan bayinya di Rumah Sakit Umum Praya, Lombok Tengah.

Kasus ini ditangani polisi, setelah JumatĀ  kemarin, warga Desa Beleka melaporkan Istri Kajep, yang tiba – tiba menggendong anak kecil. Warga curiga bayi itu hasil hubungan gelap.

Menikah lebih dari 10 tahun, Kajep memang belum dikaruniai keturunan. Karena itu Kajep girang bukan kepalang ketika ditawari membeli bayi seharga Rp 300.000. Tanpa pikir panjang, ia lalu merogoh kocek. Namun kegembiraan Kajep berakhir di tahanan polisi.

Polisi kini masih memburu Kahar, yang menjadi perantara penjualan bayi ini. Polisi sudah menggeledah kampung Kahar di Semparu, namun laki – laki itu keburu kabur.

dtc/rif

Leave a Reply

Kolom

GAGASAN
Pendidikan yang Memerdekakan

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin (21/8/2017). Esai ini karya Mohamad Ali, Ketua Program Studi Pendidikan Agama Islam Universitas Muhammadiyah Surakarta dan pengasuh Perguruan Muhammadiyah Kota Barat, Solo. Alamat e-mail penulis adalah ma122@ums.ac.id. Solopos.com, SOLO–Memasuki umur 72 tahun kemerdekaan…