Jumat, 13 Agustus 2010 08:03 WIB Solo Share :

Ratusan ichwan JAT Solo gelar doa untuk Baasyir

Solo (Espos)— Ratusan ichwan Jamaah Anshorut Tauhid (JAT) Solo mendoakan Abu Bakar Ba’asyir dengan menggelar malam keprihatinan di Mesjid Baitussalam, Tipes, Kamis (12/8) malam.

Pantauan Espos di lapangan, pelaksanaan malam keprihatinan yang dihadiri ratusan ichwan JAT tersebut dimulai pukul 22.00 WIB. Di mana, cara tersebut diyakini sebagai cara lain guna meminta keadilan kepada Alloh SWT di luar jalur hukum.

Agenda pokok dalam malam keprihatinan penangkapan ABB berupa tadarusan, tausyiah Ramadan, doa untuk Kapolri dan Densus 88, dilanjutkan acara Tarawih dinihari serta sahur bersama. Selama melakukan aksi itu, terlihat sejumlah ichwan JAT juga membentangkan spanduk bertuliskan ‘SBY Jangan Korbankan Ulama’, ‘Penangkapan Ustadz ABB=Bencana’, dan ‘Bebaskan Ustadz ABB’.

“Proses hukum ABB sampai saat ini masih dalam tahap pemeriksaan. Pada kesempatan ini kami pastikan pula, ayah saya masih sulit untuk ditemui para tamu undangan. Sampai saat ini pun, kami juga masih sulit melakukan komunikasi. Sebaliknya, komunikasi yang berlangsung hanya melalui TPM,” ujar anak ABB, yakni Adul Rahim Baasyir saat ditemui wartawan di sela-sela kegiatan malam keprihatinan penangkapan ABB berlangsung.

Lebih lanjut dia mengatakan, secara umum kondisi ABB sehat. Kendati, masih sering mengeluh sakit mag yang dideritanya. Diharapkan, tim dokter yang sudah ditunjuk selalu mengawasi perkembangan kesehatan ABB selama menjalani proses pemeriksaan. Di samping itu, kondisi ibunya juga diinformasikan mulai membaik setelah menjalani masa istirahat.

“Rombongan lain yang ditangkap di dalam mobil bersama ayah saya juga sulit ditemui. Setahu saya, dari rombongan lain juga sudah memberikan surat kuasa kepada TPM. Selama ini pula, kami juga sudah mendengar adanya bentuk aspirasi keprihatinan dari unsur lain terkait penangkapan ayah saya, termasuk dukungan di internet,” kata dia.

Pada kesempatan yang sama, menurut Imaroh Mudiriyah JAT, Ustad Sholeh Ibrahim, seiring dilangsungkannya malam keprihtainan penangkapan ABB, pihaknya juga mempertanyakan penjelasan posisi ABB yang dikaitkan dengan kasus Aceh dan Bandung. Selanjutnya, polisi juga didesak menjelaskan dasar hukumk yang melarang Ustadz ABB dilarang salat Tarawih berjamaan di tahanan Bareskrim.

“Jelas hal itu mengganggu aktivitas dakwah ustadz. Satu hal lagi, kami juga mempertanyakan penangkapan dan penahanan ABB yang mirip dengan kasus sebelumnnya. Di mana, ujung-ujungnya adalah rekayasa belaka. Makanya, kami mengadakan malam keprihtainan meminta kepada Alloh SWT,” ujar dia.

pso

Leave a Reply

Kolom

GAGASAN
ISI Bukan Kampus Zombi

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu (23/8/2017). Esai ini karya Aris Setiawan, dosen di Institut Seni Indonesia (ISI) Solo. Alamat e-mail penulis adalah segelas.kopi.manis@gmail.com Solopos.com, SOLO¬†— Institut Seni Indonesia (ISI) Solo segera dipimpin rektor baru. Rektor Sri Rochana Widyastutieningrum…