Jumat, 13 Agustus 2010 13:02 WIB News Share :

Perdebatan pusat waktu dunia ada sejak abad 19

Jakarta–Arab Saudi adalah negara kesekian yang menginginkan diri sebagai pusat waktu dunia. Sejak abad ke-19, sejumlah negara sudah saling berebut untuk menjadi meridian utama.

Negara besar seperti Prancis, Amerika Serikat dan beberapa wilayah lain yang dilalui garis meridian sempat membuat klaim tersendiri sebagai titik nol derajat. Namun, lewat konvensi meridian internasional yang digelar di Washington DC, AS, pada tahun 1884, diputuskan Greenwich sebagai wilayah tunggal meridian utama.

Dalam konferensi yang dihadiri oleh 41 delegasi dari 25 negara tersebut, diputuskan tujuh poin tentang penentuan pusat waktu dunia. Seluruh negara patuh pada hasil konvensi, kecuali Prancis yang ngotot menggunakan Paris Meridian Time (PMT) sebagai acuan waktu. Baru pada tahun 1911, negeri mode tersebut ikut menggunakan GMT.

Kini, Arab Saudi kembali menantang GMT lewat sebuah menara jam Abraj Al-Bait di Makkah. Lewat proyek ambisius tersebut, Makkah berharap bisa menjadi pusat waktu dunia dan menggeser penanggalan hari di berbagai belahan bumi.

“Ini akan jadi masalah baru. Belum tentu seluruh negara di dunia mau menerima. Dulu saja perdebatannya panjang dan baru berakhir pada tahun 1884,” kata astronom ITB, Moedji Raharto, Jumat (13/8).

Menurut Moedji, mungkin saja GMT bergeser ke Makkah karena alasan tertentu. Tapi, butuh usaha yang luar biasa dan tenaga yang tidak sedikit untuk meyakinkan dunia bahwa Makkah adalah maridian utama.

“Apalagi sekarang orang sudah memakai GMT semua. Semua kepentingan bisnis, penerbangan dan segala hal sudah mengacu ke sana. Harus jelas dulu Makkah konsepnya bagaimana,” tegasnya.

Seperti diketahui, pemerintah Arab Saudi sedang merampungkan proyek ambisius untuk menggeser Greenwich Mean Time (GMT) sebagai pusat waktu dunia. Sebuah menara jam raksasa yang lima kali lebih besar dari Big Ben di London sedang dibangun di kota Makkah.

Bagi Arab Saudi, Makkah dianggap lebih tepat sebagai episentrum dunia. Kota suci umat muslim tersebut diklaim sebagai wilayah tanpa kekuatan magnetik oleh peneliti Mesir seperti Abdel-Baset al-Sayyed.

“Itulah mengapa ketika seseorang berpergian ke Makkah atau tinggal di sana, mereka tinggal lebih lama dan lebih sehat karena hidupnya lebih sedikit dipengaruhi oleh gravitasi,” jelas al-Sayyed.

dtc/ tiw

lowongan pekerjaan
PT. INDUKTURINDO UTAMA, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Eropa pun Galau Ihwal Media Sosial

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin (16/10/2017). Esai ini karya Ahmad Djauhar, Ketua Dewan Redaksi Harian Solopos dan Wakil Ketua Dewan Pers. Alamat e-mail penulis adalah djauhar@bisnis.com. Solopos.com, SOLO — Kegalauan ihwal media sosial kini melanda hampir seluruh negara di…