warmin
Kamis, 12 Agustus 2010 16:33 WIB Kolom Share :

Selamat datang puasa…

Sepertu puasa-puasa sebelumnya, menjelang puasa kali ini kesibukan masyarakat juga bertambah.  Tradisi nyadran telah menggerakkan sektor perekonomian, dari penerbangan antarkota di Indonesia yang disesaki penumpang hingga banyak bocah peminta-minta panen rezeki di makam-makam tua. Hotel-hotel panen acara meeting and conference karena banyak instansi pemerintahan atau swasta menggunakan anggaran meeting sebelum ibadah puasa tiba.

Media massa cetak, elektronik, online maupun media alternatif sejak jauh-jauh hari sibuk mengemas content bernuansa Ramadan, sekaligus materi jualan yang memanfaatkan momentum puasa. Hampir semua produk menggunakan momentum puasa untuk mendekati konsumennya. Harga-harga kebutuhan pokok juga bergerak naik, sesuai dengan tuntutan permintaan. Situasinya akan bergerak naik dengan semakin dekatnya Lebaran atau Hari Raya Idul Fitri.

Banyak teman dan saudara yang sudah mengirim pesan melalui email, Facebook, Twitter atau handphone, atau wahana pengirim pesan lain yang berisi ucapan selamat berpuasa, permintaan maaf, tanpa bercerita tentang apa kesalahan yang telah diperbuat. Bisa dibayangkan tingginya lalu lintas data di jagat maya.

Tetapi kawan saya, Mas Boy, tak suka latah dengan tradisi-tradisi yang dilakukan orang-orang sekelilingnya. Dia suka memilih sikap berbeda, kadang-kadang dengan alasan yang tepat, kadang-kadang asal berbeda, dan kadang-kadang waton sulaya. Dia menyambut puasa dengan biasa-biasa saja.

“Puasa datang dan pergi, tradisi dari dulu ya terus begini. So what? Puasanya sebagian masyarakat kita tidak mengurangi korupsi, tidak menambah ketertiban di masyarakat. Tahu kan, Indonesia tetap negeri koruptor papan atas di dunia?” kata Mas Boy berbuih-buih, sembari mengikuti acara gerak jalan tujuh belasan di kampung, Minggu pagi kemarin.

Meski dia suka diam kalau ada orang yang bercerita, tetapi jika orang sedia memberikan telinganya untuk mendengarkan, Mas Boy akan suka sekali mendongeng.

“Orang yang berpuasa mestinya tertib dalam segala lini. Tertib di jalan, tidak suka melanggar peraturan lalu lintas, tidak suka menyogok atau menyuap, tidak mencuri, tidak korupsi, tidak berbohong, karena itu bagian dari ketaatan kepada Tuhan.”

“Ya, namanya orang banyak ta, Mas, ya seperti itu,” kata saya.

Budaya gebyar

“Lha ya itu, orang banyak. Yang biasanya malas-malasan beribadah, sebentar lagi akan berebut barisan terdepan saat tarawih keliling bersama walikota atau bupati. Ini budaya kamuflase dan orang kita paling pintar hal seperti itu. Yang biasanya malas berinfak, ini saatnya ramai-ramai memamerkan infaknya. Budaya gebyar, bukan mementingkan isi.”

Kali ini saya tertawa mendengar ocehannya yang sinis. Lalu dia berbelok ikut-ikutan sinis dengan anggota DPR seperti yang dilakukan aktor Pong Harjatmo yang sebal setengah mati kepada anggota DPR yang dianggap suka membolos, suka meminta duit untuk kebutuhan yang aneh-aneh dan suka plesiran.

“Itu bagian dari budaya gebyar itu. Yang penting menjadi anggota DPR, uang dan modal berapa pun disediakan entah dengan cara apa pun, meski setelah namanya tercantum di Senayan sana, malah banyak membolos, banyak sibuk di rumah sendiri, berbisnis atau ke luar negeri,” kata Mas Boy lagi.

Lalu Mas Boy bercerita tentang penderitaan masyarakat. Mulai dari banyaknya petani yang sedih karena padi mereka diserang wereng hingga tumpas habis tak bersisa. Bisnis sapi rakyat yang tertindih sapi impor, atau teror ledakan gas elpiji di rumah-rumah warga. Semua itu harus menjadi bahan renungan para pemimpin. Jadi rakyat bukan sekadar alat kampanye, tapi objek perjuangan setelah menjadi pemimpin.

“Puasa seharusnya menjadi momentum untuk mengingatkan setiap orang yang berpuasa untuk memperbaiki diri dengan sebaik-baiknya. Para ulama dan pemimpin agama harus mengedepankan kerukunan umat, jangan terkecoh dan berlarut-larut mengedepankan perbedaan pemahaman. Para pejabat jangan hanya mengejar langgengnya kekuasaan, jangan hanya mengejar citra paripurna namun nasib rakyat tidak diperhatikan secara layak.”

Meski uraian Mas Boy menyerupai buku diktat partai oposisi, namun sebagian memang ada benarnya. Puasa seharusnya mampu mendidik masyarakat menjadi warga yang baik, disiplin, tertib atau dalam bahasa agama disebut takwa. Orang-orang tua kita sering bercerita, ngelmu iku kelakone kanthi laku atau kepandaian dan kepintaran itu bisa dibeli dengan laku dan perjuangan. Ngelmu tertib dan disiplin dalam kebaikan seperti itu semestinya bisa dipelajari selama menjalankan ibadah puasa.

“Tapi ya untung puasa itu urusannya sama Tuhan,” kata Mas Boy lagi.

“Kok untung, kenapa?”

“Ya puasa nggak bisa dibeli, para malaikat nggak bisa disogok. Jaman sekarang, semuanya bisa dibeli. Menjadi pegawai, kuliah di universitas ternama, bahkan gelar sarjana juga bisa dibeli.”

Mungkin Mas Boy ingin bercerita bahwa di depan Sang Pencipta, budaya gebyar di permukaan tiada berguna. Tradisi-tradisi menjelang puasa, amalan-amalan dan kebiasaan-kebiasaan yang lazim dilakukan selama puasa, tak akan berguna jika tidak dilakukan dengan hati. Sebagai produk, kalau orang yang puasa tidak tumbuh menjadi pribadi yang lebih baik, berarti puasanya gagal.

Dalam konteks keindonesiaan, mestinya puasa bisa membuat para koruptor jera, membuat kita semua semakin memahami kemajemukan, semakin menghargai perbedaan dan seterusnya.

Suwarmin

Station Manager Radio Star Jogja FM

Leave a Reply

Kolom

GAGASAN
Pendidikan yang Memerdekakan

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin (21/8/2017). Esai ini karya Mohamad Ali, Ketua Program Studi Pendidikan Agama Islam Universitas Muhammadiyah Surakarta dan pengasuh Perguruan Muhammadiyah Kota Barat, Solo. Alamat e-mail penulis adalah ma122@ums.ac.id. Solopos.com, SOLO–Memasuki umur 72 tahun kemerdekaan…