Kamis, 12 Agustus 2010 16:56 WIB Sragen Share :

Pascadisuntik ternak warga Tanon mati

Sragen (Espos)–Sejumlah ternak mati pascadisuntik di Desa Kali Kobok, Kecamatan Tanon. Hal ini membuat pemilik ternak menuntut diberikan ganti rugi atas kejadian ini.

Penyuntikan yang dilakukan Dinas Perikanan dan Peternakan (Disnakan) Sragen sendiri merupakan upaya untuk mencegah meluasnya wabah penyakit ternak yang membuat sedikitnya empat ternak di Desa Ketro dan Desa Tanon, kecamatan setempat, mati.

Warga RT 19 Dukuh Mojoranti, Desa Kali Kobok, Warsini, 50, mengatakan ternak jenis kambing miliknya mati setelah disuntik. Warsini mengaku sengaja membawa lima ternaknya untuk disuntik bersama ternak-ternak lain di dukuhnya, lantaran khawatir terserang wabah ternak. Namun, hanya berselang dua hari setelah disuntik, ternak miliknya yang diperkirakan laku dijual Rp 1 juta, binasa.

“Malam hari setelah siangnya disuntik kambing saya aboh. Di bagian leher, dada sampai perut aboh semua. Dua hari sakit, tidak mau makan, sampai kemudian mati. Padahal sebelumnya sehat-sehat saja. Saya sudah lapor ke Pak Bayan. Saya ingin ada ganti rugi, apapun bentuknya, saya sangat sedih sampai tidak doyan makan,” ungkap Warsini, saat ditemui Espos, di kediamannya, Kamis (12/8).

Tunturan warga terkait ganti rugi ternak yang mati dibenarkan perangkat Desa Kali Kobok, Joko Harjanto. Joko menjelaskan penyuntikan dilakukan sekitar tujuh atau delapan hari lalu. Dua hari pascapenyuntikan, beberapa pemilik ternak melaporkan matinya ternak mereka ke kantor desa. Ada lebih dari 10 warga yang melaporkan kondisi tersebut. Pada umumnya, lanjut dia, laporan masyarakat menyebut pascadisuntik ternak mengalami memar di sebagian tubuh dan beberapa hari kemudian mati.

“Warga tahunya ternak mereka sehat, disuntik, lalu mati. Kalau begini siapa yang harus bertanggung jawab. Kami dari desa berharap Dinas segera memberi solusi atas persoalan ini,” tandas Joko.

tsa

Distributor Simas & Bimoli, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Leave a Reply

Kolom

GAGASAN
Kota Penyair Perlawanan

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu (16/8/2017). Esai ini karya Anindita S. Thayf, novelis dan esais yang tinggal di Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Alamat e-mail penulis adalah bambu_merah@yahoo.com. Solopos.com, SOLO–Dalam rangka memperingati hari proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia pada 1982,…