Kamis, 12 Agustus 2010 17:45 WIB Wonogiri Share :

Dikeluhkan, renovasi Gedung BNI Jatisrono

Wonogiri (Espos)–Pembangunan renovasi gedung BNI Jatisrono, dinilai warga tidak mengindahkan etika bermasyarakat karena terkadang dilakukan hingga larut malam. Sehingga hal ini dikeluhkan warga sekitar karena menimbulkan suara bising dan mengganggu kenyaman warga.

Upaya warga untuk meminta penjelasan dirasa justru dipingpong. Pernyataan itu disampaikan drg Maya Kusuma Wardani kepada Espos. “Saya merasa bising dan dipingpong saat akan meminta penjelasan kepada pimpinan BNI,” ujar drg Maya.

Diceritakannya, sesuai UU No 28/2002 tentang Izin Mendirikan Bangunan (IMB), maka prosedur persetujuan dengan warga sekitar harus dilalui oleh pihak pelaksana. “Namun hal itu tidak dilakukan dan kami menoleransi, namun jangan sampai merugikan orang lain saat melakukan pengerjaan. Kami sendiri merasa terteror dengan suara bising, bahkan sempat mengungsi dengan ibu ke kamar pembantu agar tidak mendengar suara bising tetapi ternyata rasa nyaman belum kami peroleh.”

Camat Jatisrono Yogik saat dihubungi Espos, Kamis (12/8) belum mendapat laporan, namun sudah mendengar saat nongkrong di HIK. “Kami akan segera menyurati dan mengingatkan pihak BNI untuk menegur kontraktor. Kami mendengar, pengerjaan itu memang dilakukan pada malam hari,” ujarnya.

Namun demikian, jelasnya, waktu pengerjaan semestinya juga memperhatikan kepentingan warga sekitar. Menurut Camat, tidaklah etis jika pengerjaan yang menimbulkan bising dilakukan hingga tengah atau larut malam.

Terpisah Pimpinan BNI’46 Jatisrono, Nur Bineko saat dihubungi Espos, Kamis (12//8) mengaku sudah menerima keluhan itu. Dia mengatakan, setelah penandatanganan kontrak maka tanggungjawab pada kontraktor. “Kami sudah sampaikan teguran tertulis dan kami juga mendekati warga untuk menyelesaikan.”

tus

lowongan kerja
lowongan kerja HORIZON, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Leave a Reply

rabu 31 mei

Kolom

GAGASAN
Etika dan Hukum di Media Sosial

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat (9/6/2017), Agus Riewanto, pengajar Fakultas Hukum UNS Solopos.com, SOLO–Baru saja kita melihat fenomena tindakan persekusi, yakni tindakan pemburuan secara sewenang-wenang terhadap seseorang atau sejumlah warga kemudian disakiti atau diintimidasi dan dianiaya karena mengekspresikan…