Selasa, 10 Agustus 2010 00:44 WIB Feature Share :

ABB sering mengeluh sakit maag sebelum waktu penangkapan...

Oleh: Ponco Suseno

Berita terkait penangkapan Ustad Abu Bakar Ba’asyir (ABB), 73, di Banjar, Ciamis, Jawa Barat (Jabar) pukul08.00 WIB oleh tim Densus 88 kontan menggemparkan hampir seluruh penghuni Pondok Pesantren (Ponpes) Al-Mukmin Ngruki dan seluruh angota Jamaah Anshorut Tauhid (JAT) di Solo.

Banyak kalangan santri, ustadz, dan kerabat ABB mencari informasi lebih lanjut setelah kabar penangkapan yang tersiar di sejumlah media elektronik disiarkan sejak Senin (9/8) pagi. Dari kesekian unsur, kiranya yang cukup tersentak dengan berita penangkapan itu tidak lain adalah pihak keluarga ABB sendiri.

Tak ayal, beberapa jam setelah penangkapan ABB, pihak keluarga langsung mengelar jumpa pers di Cemani, Sukoharjo, Senin (9/8) pukul 13.00 WIB. Jumpa pers tersebut guna menyikapi penangkapan yang dinilai tidak prosedural dan di luar mekanisme.

Hadir dalam kesempatan tersebut, pihak keluarga yang diwakili putera ketiga ABB, yakni Abdul Rochim Baasyir, Katibul ‘Aam JAT Solo, Abdulrahman S, dan sejumlah pengurus JAT Solo lainnya.

Selama memberikan keterangan di hadapan pers, putera ketiga ABB yang mengenakan kemeja putih dan peci putih itu terlihat sering meneteskan air mata, lantaran  tak kuasa mendengar penangkapan kedua orangtuanya.

“Sesaat setelah kabar penangkapan, saya akui dari pihak keluarga kesulitan mengontak orangtua saya. Nantinya, segala hal yang terkait dengan proses hukum akan kami serahkan ke TPM. Sedangkan, masalah kesehatan akan kami serahkan ke seorang dokter yang sudah kami percayai sejak lama,” ujar dia dengan sedikit terbata-bata di hadapan wartawan di Kantor JAT Sukoharjo, Senin (9/8).

Lebih lanjut dia mengatakan, akibat penangkapan paksa yang dilakukan tim Densus 88, dirinya mengkhawatirkan kondisi kesehatan kedua orang tuanya. Berdasarkan pengamatannya dalam beberapa waktu terakhir, dirinya sering melihat ayahnya mengeluh sakit maag di bagian perut dan harus beristirahat panjang guna masa pemulihan. Di sisi lain, isteri ABB, yakni Aisyah, 68, memiliki penyakit gula. Untuk itu, setiap menempuh perjalanan panjang, ibunya perlu juga selalu membutuhkan waktu khusus untuk istirahat.

“Sampai saat ini (kemarin -red) kami juga belum menerima surat pemberitahuan atau penangkapan terhadap ayah saya. Terus terang dari berbagai persoalan yang ada, saya hanya mengkhawatirkan kondisi kedua orangtua saya. Utamanya, ibu saya yang secara khusus harus memperoleh waktu istirahat penuh begitu melakukan perjalanan jauh,” ulas dia.

lowongan pekerjaan
PT. PERINTIS KARYA SENTOSA, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Sapa Salah Seleh

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat (17/11/2017). Esai ini karya Tito Setyo Budi, esais, sastrawan, dan budayawan yang tinggal di Sragen. Alamat e-mail penulis adalah titoesbudi@yahoo.com Solopos.com, SOLO–Ada pepatah tua dalam khazanah budaya Jawa, yaitu sapa salah seleh. Artinya,…