Senin, 9 Agustus 2010 22:00 WIB Hukum Share :

Ratusan pendemo gelar aksi di halaman Polresta

Solo (Espos)–Ratusan pendemo dari unsur Jamaah Anshorut Tauhid (JAT) Solo, santriwan di Ponpes Al-Mukmin Ngruki dan Front Pembela Islam (FPI) Solo melakukan aksi, di Halaman Polresta Surakarta, Senin (9/8) sekitar pukul 15.00 WIB.

Aksi itu sebagai bentuk reaksi terhadap penangkapan Ustad Abu Bakar Baasyir (ABB)

Sambil mencibir keberadaan kepolisian, ratusan pendemo tak henti-hentinya melantunkan gema takbir di halaman Mapolrestas Surakarta.

Berdasarkan pantauan Espos di lapangan secara langsung, proses demontrasi tersebut mendapatkan pengawalan ekstra ketat dari jajaran Polresta Surakarta.

Dalam menghadapai pendemo, setidaknya polisi menyiapkan pasukan anti huru-hara, satu unit water canon, dan beberapa perlengkapan operasional pendukung lainnya.

Pada kesempatan tersebut, hampir seluruh jajaran di Polresta Surakarta terlibat proses pengamanan, termasuk Sat Intel, Sat Reskrim, Sat Narkoba, Sat Lantas, Samapta, Provost, dan unsur Polresta lainnya.

Dalam aksi unjuk rasaitu juga sempat terjadi insiden kecil, yakni di pertigaan Sriwedari Solo. Saat itu, ratusan pendemo yang berjalan beriringan dari Ngruki ke Polresta Surakarta berpapasan dengan pengguna jalan.

Sebuah mobil Taftber-Nopol AD 7873 CA dikabarkan sempat menabrak salah satu demonstran, bernama Hafid Al Hakim.

Peristiwa tersebut memicu kemarahan pendemo lainnya, sehingga menimbulkan ketegangan antara demonstran, pengguna jalan, dan kepolisian.

Insiden kecil tersebut juga mengakibatkan Hafid Al Hakim harus dilarikan ke RS PKU Muhammadiyah Solo, lantaran mengalami luka serius di bagian tubuhnya. Berkat kecekatan petugas kepolisian, insiden kecil itu berhasil ditangani lebih lanjut.

“Ya, benar waktu kami berjalan menuju ke Polresta Surakarta ada insiden kecil, di mana ada santri yang ditabrak. Untuk masalah itu, kami sudah ultimatum kepada kepolisian agar mengurus lebih lanjut,” ulas Humas JAT, Hendro Darsono.

Dalam penggalan orasi yang disampaikan perwakilan demonstran sekaligus Ketua FPI Solo, Choirul sangat menyesalkan tindakan polisi. Tidak semestinya, polisi bertindak di luar hukum.

“Kita ketahui bersama, ABB merupakan ulama yang alim. Di saa, juga tidak ada senjata dan tidak akan melakukan perlawanan. Tapi, proses penangkapannya tidak disertai dengan surat penangkapan ataupun pemberitahuan. Kalau memang hanya ingin mencari masalah, silakan Densus 88 menantang laskar saat ini,” ulas dia.

Pernyataan kecaman proses penangkapan ABB juga muncul dari Umat Islam Surakarta. Di mana, dalam pers rilis-nya, mereka menyampaikan bahwa tindakan yang dilakukan kepolisian sangat keji hanya sebuah hasil rekayasa, penangkapan tersebut juga termasuk dalam skenario global yang dilakukan musuh-musuh islam, dalam hal tuduhan ABB mengkritik kebijakan presiden tidak lain karena kapasitas ABB sebagai warga negara dan dilindungi undang-undang.

Terpisah, menanggapi berbagai rekasi elemen umat islam di Solo terkait penangkapan ABB, Kapolresta Surakarta, Kombes Pol Nana Sudjana menegaskan sejauh ini situasi dan kondisi di daerahnya masih berlangsung aman dan tertib.

pso

lowongan kerja, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Leave a Reply

rabu 31 mei

Kolom

GAGASAN
Kasus Klaten Mengingat Pejabat Pengingkar Amanat

Gagasan┬áSolopos ini telah terbit di HU Solopos Edisi Rabu (4/1/2017). Buah gagasan Muhammad Milkhan, pengurus cabang Gerakan Pemuda Ansor Kabupaten Klaten yang beralamat email di┬ámilkopolo@rocketmail.com. Solopos.com, SOLO —┬áPredikat laknat memang pantas disematkan kepada para pejabat yang mengingkari amanat. Para pejabat…