Minggu, 8 Agustus 2010 12:16 WIB News Share :

Kronologi kapal terbalik versi DPR

Jakarta–Kecelakaan kapal rombongan Komisi III DPR dari Bunaken menuju Manado, Sabtu (7/8) sangat mengejutkan. Bagaimana kronologi keberangkatan dari Manado menuju Bunaken hingga kecelakaan itu terjadi?

Berikut penuturan Wakil Ketua Komisi III DPR Tjatur Sapto Edy, Minggu (8/8). Tjatur satu-satunya pimpinan Komisi III DPR yang ada dalam rombongan ke Bunaken, karena pimpinan lainnya sudah kembali ke Jakarta.

Berangkat ke Bunaken

Pukul 08.00 WITA

Para anggota Komisi III, yang sebagian membawa serta istri, tiba di pelabuhan Manado. Mereka menyewa dua kapal. Satu kapal kayu yang berkapasitas 15 orang dan satu kapal kecil fiber glass yang berkapasitan 10 orang.

Pukul 08.10 WITA

Dua kapal mulai bergerak dari dermaga Manado. Kapal kayu diisi oleh para anggota Komisi III. Kapal fiber glass diisi para staf anggota DPR. Saat berada di atas kapal, para anggota Komisi III DPR tidak mengenakan pelampung, karena nakhoda juga tidak menawarkan pemakaian pelampung. Dalam perjalanan  menuju Bunaken, dalam kondisi gerimis, namun ombak sangat-sangat tenang.

Tiba di Bunaken

Pukul 08.50 WITA

Dua kapal tiba di Bunaken. Saat itu, Bunaken diguyur hujan. Sebagian anggota DPR dan rombongan berteduh di tempat-tempat penjualan suvenir. Sebagian rombongan melakukan snorkeling, karena saat itu ombak terlihat sangat tenang. Tjatur Sapto, satu-satunya anggota DPR yang memilih melakukan snorkeling.

Pukul 10.30 WITA

Rombongan bersiap-siap kembali ke Manado. Mereka buru-buru ingin pulang, karena jadwal take off ke Jakarta pukul 14.00 WITA. Sekitar pukul 10.45 WITA, para anggota DPR dan beberapa staf sudah berada di dalam kapal kayu. Kapal ini diisi 15 orang.

Sementara anggota DPR dari Fraksi Partai Demokrat, Sutjipto, yang membawa serta isteri dan anaknya, berencana ikut kapal boat fiber glass. Tjatur Sapto Edy, karena baru saja selesai snorkeling, juga tidak bisa ikut ke kapal kayu itu. Setelah berganti pakaian, Tjatur pun masuk ke boat kecil untuk pulang.

Pukul 10.45 WITA

Sutjipto tiba-tiba minta supaya diikutkan di kapal kayu. Akhirnya, boat kecil mengejar kapal kayu yang sudah bergerak terlebih dulu. Sutjipto dan keluarganya akhirnya masuk ke kapal kayu, dan kapal kayu itu langsung menuju dermaga Manado. Sedangkan, boat kecil yang ditumpangi Tjatur kembali ke Bunaken untuk menjemput staf DPR yang tertinggal. Setelah itu, kapal boat fiber glass ini juga melaju kembali ke Manado. Ombak saat itu terlihat tenang. Rombongan yang berada di kapal kayu maupun di boat fiber glass tidak mengenakan pelampung.

11.20 WITA

Setelah sekitar 30 menit mengarungi lautan, kapal kayu tiba di dekat dermaga Manado. Jarak kapal dengan dermaga hanya sekitar 2-3 meter. Namun, tiba-tiba ombak tinggi datang dan menghempas kapal tersebut. Ombak itu datang tiga kali. Kapal pun pecah dan hancur berantakan, para penumpang pun kocar-kacir di laut. Pertolongan dari orang-orang di dermaga segera dilakukan. Namun, dua orang, Setia Permana (anggota Komisi III) dan Wahyu Nurani (istri anggota Komisi III Sutjipto) sudah tidak tertolong. Keduanya tewas. Sementara anggota Komisi III DPR lainnya selamat dan sebagian terluka. Sebagian besar mereka terluka karena terkena pecahan kapal dan batu-batu di dekat dermaga.

Pada saat yang sama, kapal boat fiber glass dan ditumpangi Tjatur dan staf anggota DPR yang berjumlah 10 orang semakin jauh tertinggal dari kapal kayu. Sebab, boat fiber glass ini kehabisan bahan bakar. Tjatur berusaha menghubungi para anggota DPR yang lain untuk meminta ada kapal yang membawakan bahan bakar menuju kapalnya.

“Tapi, tidak ada satu pun anggota DPR yang bisa dihubungi. Dari kejauhan, saya lihat banyak orang di dermaga yang terlihat sibuk, sedangkan kapal kayu yang ditumpangi anggota DPR lainnya tak terlihat lagi,” ujar dia.

Dan saat itulah, Tjatur baru tahu bahwa kapal kayu itu mengalami kecelakaan saat ombak mendadak sangat tinggi. Boat fiber glass yang ditumpangi Tjatur bisa melaju kembali ke dermaga setelah ada kapal kecil yang mendekat dan membagi bahan bakar.

Ombak sangat tinggi

Tjatur menceritakan datangnya ombak yang tiba-tiba tinggi itu sangat mengejutkan. “Padahal, sebelumnya ombak terlihat sangat tenang,” ujar Tjatur.

Ombak itu datang begitu cepat dan hilang begitu cepat. “Saat ombak itu datang, kapal saya masih berada agak di tengah. Ombak itu terlihat dua meter di atas saya,” kata dia.

Kapal fiber glass yang ditumpang Tjatur pun terombang-ambing. “Kami juga shock, karena saat itu bahan bakar habis. Tapi, kami akhirnya selamat,” jelas anggota DPR dari PAN itu.

Tjatur pun menduga kemungkinan ombak itu datang terkait letusan gunung di kawasan Sulawesi. “Katanya di belakang Bunaken itu juga ada gunung yang sedang erupsi. Apakah ini ada kaitannya atau tidak, saya tidak tahu,” kata alumnus ITB itu.

dtc/ tiw

lowongan pekerjaan
PT. SO GOOD FOOD, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

SOLOPOS HARI INI
Sistem Kerja Densus Tipikor Hingga Pembangunan Pasar Klewer Timur

Halaman utama Harian Umum Solopos hari ini, Selasa (17/10/2017), memberitakan tentang pola kerja Densus Tipikor. Solopos.com, SOLO – Kapolri Jenderal Polisi Tito Karnavian menjelaskan tentang sistem kerja Detasemen Khusus (Densus) Tindak Pidana Korupsi (Tipikor). Densus terbaru itu akan mengadaptasi sistem…