Ilustrasi beras untuk warga miskin (raskin). (JIBI/Solopos/Dok.) Ilustrasi beras untuk warga miskin (raskin). (JIBI/Solopos/Dok.)
Jumat, 6 Agustus 2010 16:29 WIB Boyolali Share :

Tak layak konsumsi, warga Banyudono tolak terima Raskin

Boyolali (Espos)–Sekitar 20.070 kilogram (kg) Raskin di tujuh desa di Kecamatan Banyudono tak layak dikonsumsi. Sebagian warga pun menolak menerima beras yang dipatok dengan harga Rp 1.600 per kilogram tersebut.

Ketujuh desa tersebut, yakni Desa Kuwiran sebanyak 3.105 kg, Desa Bendan sejumlah 4.410 kg, Desa Ketaon sebanyak 4.320 kg, Desa Banyudono sebanyak 285 kg, Desa Bangak 2.400 kg, Desa Trayu sejumlah 3.105 kg, dan Desa Tanjung Sari yang mendapatkan jatah 2.730 kg. Droping Raskin di Kecamatan Banyudono dilakukan Rabu (4/8). Namun, sebagian masyarakat di tujuh desa mengeluh karena Raskin yang mereka terima tidak layak untuk dikonsumsi.

Butiran berasnya rusak, lapuk, dan baunya tidak sedap. “Beras ini benar-benar tak layak untuk dimakan. Lihat saja berasnya sudah ajur (hancur-red) jadi bubur begini. Hampir semua masyarakat yang sudah mengambil jatahnya ke balai desa mengeluh dengan kualitas Raskin kali ini,” tutur Kaur Kesra Desa Banyudono, Suwarno saat dijumpai wartawan di tempat kerjanya, Jumat (6/8).

Suwarno menambahkan, jatah Raskin bagi Desa Banyudono berjumlah 5.160 kg. Sebagian warga pun telah mengambil jatah mereka pada Kamis kemarin. Namun, sejumlah warga di Dukuh Karangasem RT4/RW III, menolak menerima Raskin yang tak layak konsumsi. Dan jatah Raskin yang ditolak warga sekitar 285 kg. Camat Banyudono, Karsino membenarkan adanya sebagian Raskin yang kualitasnya tidak layak dikonsumsi di Kecamatan Banyudono. “Kami langsung berkoordinasi dengan Dolog. Dolog pun bersedia bertanggung jawab dan siap menggantinya. Raskin yang tak layak itu akan ditarik dan diganti yang bagus,” tandas Karsino.

hkt

lowongan pekerjaan
Harian Umum SOLOPOS, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Eropa pun Galau Ihwal Media Sosial

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin (16/10/2017). Esai ini karya Ahmad Djauhar, Ketua Dewan Redaksi Harian Solopos dan Wakil Ketua Dewan Pers. Alamat e-mail penulis adalah djauhar@bisnis.com. Solopos.com, SOLO — Kegalauan ihwal media sosial kini melanda hampir seluruh negara di…