Kamis, 5 Agustus 2010 20:19 WIB Boyolali Share :

Harga bunga tabur melonjak

Boyolali (Espos)–Harga bunga tabur di sentra produksi di Boyolali mengalami kenaikan yang cukup signifikan.

Hal itu salah satunya dipicu banyaknya kegiatan ritual nyadran atau ziarah kubur pada Bulan Syaban atau Ruwah.

Hingga Kamis (5/8) kemarin, harga bunga mawar ditingkat petani mencapai Rp 70.000 per satu keranjang belanja. Bahkan, sepekan sebelumnya, harga menembus hingga Rp 85.000 per satu keranjang belanja.

Di Kabupaten Boyolali, sentra produksi bunga mawar berada di sejumlah desa di Kecamatan Musuk, antara lain di Desa Mriyan, Cluntang, Sruni, Kembangsari dan Ringinlarik. Para petani melakukan panen sekitar pukul 02.00 WIB.

Salah seorang petani Mini, warga Mriyan mengatakan dirinya terpaksa membawa alat penerang untuk melakukan panen. Pasalnya, permintaan akan bunga tabur itu meningkat dengan seiring pelaksanaan <I>nyadran<I>.

“Saat ini memang harga meningkat seiring dengan kegiatan <I>nyadran<I>. Tetapi kenaikan itu juga dipicu karena banyaknya tanaman mawar yang mengalami kerusakan akibat tidak menentunya cuaca yang ada,” ujarnya kepada wartawan, kemarin.

Dijelaskannya, para petani itu biasa menjual di Pasar Mongko, Desa Ringinlarik dan Pasar Gempur di Desa Sruni, Musuk. Bahkan, imbuh dia, pasar bunga tabur itu juga berada di sejumlah pinggir jalan di wilayah Kecamatan Musuk.

Sementara salah seorang pedagang bunga tabur di Pasar Boyolali Kota, Supi, 45, warga Karangkendal, Musuk mengakui dalam pekan ini harga bunga tabur mengalami kenaikan yang fluktuatif.

“Hari ini (kemarin-red) harga bunga tabur mencapai Rp 70.000 per satu keranjang belanja. Sedang akhir pekan lalu naik hingga lebih dari Rp 85.000 per satu keranjang belanja,” ujarnya saat ditemui Espos, kemarin.

fid

lowongan pekerjaan
PT. SO GOOD FOOD, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Masyarakat Tertutup Era Keterbukaan

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin (9/10/2017). Esai ini karya Ichwan Prasetyo, jurnalis Solopos. Alamat e-mail penulis adalah ichwan.prasetyo@solopos.co.id. Solopos.com, SOLO–Masyarakat tertutup mempertahankan keberadaannya melalui ketaatan mutlak kepada perintah yang diyakini benar, terlepas dari apakah kebenaran itu sudah diuji…