Rabu, 4 Agustus 2010 10:00 WIB News Share :

Pengamat
Palangkaraya potensial jadi Ibu Kota Indonesia

Yogyakarta–Kota Palangkaraya, Kalimantan Tengah, potensial dijadikan ibu kota Indonesia karena dari sisi geopolitik, geologi, dan geografis cukup strategis, kata pengamat politik dari Universitas Muhammadiyah Yogyakarta Achmad Nurmandi.

“Menjadikan Palangkaraya sebagai pengganti Jakarta, secara geopolitik merupakan sebuah usaha distribusi pembangunan yang merata karena selama ini pembangunan infrastrukktur terkonsentrasi di Indonesia bagian barat khususnya Pulau Jawa,” katanya di Yogyakarta, Rabu (4/8).

Selain itu, menurut dia, secara geografis posisi Palangkaraya tepat berada di tengah Indonesia dan memiliki kondisi geologi yang relatif aman dari bencana alam. Palangkaraya cenderung aman dari gempa dan banjir dibandingkan kota lain.

“Biaya untuk membangun Palangkaraya menjadi kota yang siap menjadi pusat pemerintahan dengan menyediakan berbagai infrastruktur baik bangunan maupun jalan diperkirakan mencapai Rp 100 triliun,” katanya.

Ia mengatakan dana Rp 100 triliun itu lebih sedikit atau lebih hemat dibandingkan biaya untuk mengatasi permasalahan Jakarta saat ini seperti kemacetan, banjir, dan berbagai masalah lain.

“Jumlah Rp100 triliun itu bisa dicicil selama 10 tahun dari APBN untuk membangun ibukota baru,” kata dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fisipol) Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) itu.

Namun, menurut dia, pemindahan ibukota pasti akan memunculkan resistensi dari pihak-pihak yang memiliki kepentingan atas Jakarta seperti DKI Jakarta, Jawa Barat, dan Banten.

“Resistensi bisa muncul dari tiga pihak itu karena ketiganya membutuhkan akses politik yang dekat dan cepat terhadap pemerintah pusat. Jika ibukota berpindah, maka akses politik juga akan semakin jauh,” katanya.

Ia mengatakan, ada satu hal yang perlu diantisipasi jika Palangkaraya menjadi ibukota Indonesia, yakni kesiapan penduduk lokal. “Penduduk lokal harus disiapkan dan jangan sampai terpinggirkan. Jadi, semua harus disiapkan secara matang,” katanya.

ant/rif

Leave a Reply

Kolom

GAGASAN
Pendidikan yang Memerdekakan

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin (21/8/2017). Esai ini karya Mohamad Ali, Ketua Program Studi Pendidikan Agama Islam Universitas Muhammadiyah Surakarta dan pengasuh Perguruan Muhammadiyah Kota Barat, Solo. Alamat e-mail penulis adalah ma122@ums.ac.id. Solopos.com, SOLO–Memasuki umur 72 tahun kemerdekaan…