Selasa, 3 Agustus 2010 19:30 WIB News Share :

Polisi diidentikkan tukang peras, Mabes Polri tidak tersindir

Jakarta –– Mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) Jimly Assiddiqqie menyindir polisi identik dengan tukang peras. Polisi yang dimaksud Jimly memang bukan Polri melainkan polisi di Afrika. Lalu bagaimana tanggapan Mabes Polri?

“Biasa saja, kami tidak merasa tersindir,” ujar Kabidpenum Mabes Polri Kombes Marwoto Soeto saat dihubungi, Selasa (3/8).

Menurut Marwoto, pernyataan Jimly ditujukan untuk polisi di luar negeri. Sementara, untuk Polri tidak ada budaya peras-memeras.

“Enggak ada itu. Itu kan di luar (negeri). Di kita enggak ada, enggak boleh itu,” ucapnya.

Dalam sambutan di seminar ‘Lumpuhnya Sistem Keadilan: Tantangan Penegakan HAM dan Peran Advokat untuk Kepentingan Publik’ di Hotel Harris, Jakarta, Jimly mencontohkan tingkatan mafia peradilan. Polisi adalah mafia pertama yang akan dijumpai.

“Mafia pertama isinya tukang peras, tukang peras pertama itu polisi. Tapi ini polisi di Afrika,” seloroh Jimly disambut gelak tawa peserta seminar.

Menurutnya, makin banyak kasus maka akan semakin banyak korban yang diperas. “Makin banyak kasus dia bersyukur. Jadi, Polisi itu identik dengan tukang peras,” tutur Jimly.

dtc/tya

lowongan kerja
lowongan kerja, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Leave a Reply

senin 5 juni

Kolom

GAGASAN
Bung Karno dan Kebudayaan Nasional

Gagasan ini karya Hendra Kurniawan, dosen Pendidikan Sejarah di Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. Esai ini dimuat Harian Solopos edisi Selasa (6/6/2017). Alamat e-mail penulis adalah hendrayang7@gmail.com Solopos.com, SOLO¬†— Esai Albertus Rusputranto P.A. bertajuk Bung Karno, Lenso, Cha Cha di Harian…