Selasa, 3 Agustus 2010 17:53 WIB Wonogiri Share :

Petani tembakau Manyaran diharap tak putus arang

Wonogiri (Espos)–Pihak PT Sadana Arifnusa berharap petani tembakau di Kecamatan Manyaran, Wonogiri tidak putus arang, karena rugi atau laba baru bisa diketahui saat petik daun telah usai. Petugas dari perusahaan juga tidak pernah melakukan sosialisasi dengan mencantumkan grade daun disertai harga.

Untuk itu, apa yang terjadi pada petani di Desa Kepuhsari, Kecamatan Manyaran, Wonogiri merupakan miss comunication dan perlu dicari titik temu, agar pemahaman petani bisa sama. Pihak perusahaan juga akan memberikan reward bagi petani senilai Rp 2.000/kg, jika lingkar penjualan menunjukkan hasil bagus.

Artinya, tiga tahapan penjualan yang dilakukan petani semua menghasilkan daun berkualitas bagus. Kunci dari keberhasilan, meraih penghasilan yang menguntungkan adalah telaten dalam perawat tanaman tembakau. Pernyataan itu disampaikan Koordinator wilayah Wonogiri PT Sadana Arifnusa, Dedi kepada Espos di Kantor Dinas Kehutanan dan Perkebunan (Dishutbun) Wonogiri.

Didamping Kepala Dishutbun, Sri Jarwadi, Tugiyo, Sriyanto dan pegawai lainnya, Dedi mengatakan di Wonogiri terdapat empat kecamatan yang telah mengembangkan tanaman tembakau. Yakni Kecamatan Pracimantoro, Eromoko, Wuryantoro dan Manyaran. Dia juga membantah, jika didalam melakukan sosialisasi ada pembedaan materi.

“Tidak ada pembedaan dan saat sosialisasi, tidak pernah menyebutkan harga di setiap grade. Yang ada dan dilakukan, petugas sosialisasi adalah penyampaian profil petani yang berhasil.”

Dedi menyatakan, seorang petani tembakau belum bisa mengatakan merugi, jika baru kali pertama melakukan penjualan. “Petik daun tembakau dilakukan tujuh kali dengan tiga kali penjualan. Jika cuaca bagus dan perawatan petani bagus, maka hasil yang diperoleh juga akan bagus. Tidak ada niatan dari perusahaan untuk menipu ataupun melakukan rekayasa harga. Di tiga kecamatan, pola penjualan juga sama dengan di Manyaran dan berjalan. Bahkan di Eromoko, jumlah petani tembakau mencapai 270-an orang, atau terbanyak. Jadi petik habis, baru komentar.”

Ditambahkan oleh Kepala Dishutbun Wonogiri, Sri Jarwadi jenis tembakau di Wonogiri adalah jenis vike atau rendah nikotin. ”Kami berharap, ada sosialisasi ulang sehingga petani di Manyaran paham. Cuma waktunya bisa disesuaikan dengan kondisi. Yang jelas, kami juga tidak ingin petani dirugikan, karena pola kemitraan ini sebisa mungkin berjalan seiring dan saling menguntungkan.”

Diberitakan, sebagian petani tembakau di Desa Kepuhsari, Manyaran, Wonogiri nglokro (tidak bersemangat) gara-gara harga tembakau tidak terjual sesuai harga yang dijanjikan sebagaimana dalam sosialisasi program penanaman tembakau. Salah seorang petani tembakau, Katino mengatakan kalau saat ini ada tiga pilihan yang dilakukan petani.

tus

PT. ABRAR TUJUH BERSAUDARA ISLAMI, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Leave a Reply

Kolom

GAGASAN
Kota Penyair Perlawanan

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu (16/8/2017). Esai ini karya Anindita S. Thayf, novelis dan esais yang tinggal di Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Alamat e-mail penulis adalah bambu_merah@yahoo.com. Solopos.com, SOLO–Dalam rangka memperingati hari proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia pada 1982,…