Selasa, 3 Agustus 2010 11:53 WIB Sport Share :

Basket larang vuvuzela

Istanbul–Vuvuzela tidak hanya dilarang di sepakbola. Basket pun ikut mengeluarkan status ‘haram’ terhadap terompet yang menjadi ikon Piala Dunia 2010 itu.

Vuvuzela menjadi naik daun usai menghiasi South Africa 2010. Meski populer, namun banyak yang tidak menghendaki kehadiran vuvuzela. Klub-klub di Liga Inggris melarang bagi terompet bersuara seperti tawon itu ‘hadir’ dalam pertandingan.

Vuvuzela juga mendapatkan penolakan di cabang olahraga selain sepakbola. Setelah sebelumnya panitia Grand Slam tenis Wimbledon, kini giliran basket yang melarang vuvuzela untuk ‘ambil bagian’. Status ‘haram’ terhadap vuvuzela berlaku untuk kejuaraan dunia yang akan digelar di Turki.

“Fans dihimbau untuk tidak membawa masuk instrumen kontroversial itu ke dalam stadion dan meminta aparat keamanan untuk menyita bila ada yang kedapatan vuvuzela. Suporter juga akan menghadapi hukuman dilarang masuk ke lima venues yang digunakan untuk menggelar pertandingan,” demikian keterangan federasi bola basket internasional FIBA di situs resminya, seperti diberitakan detikSport, Selasa (3/8).

Ini merupakan kali pertama federasi olahraga internasional mengeluarkan larangan bagi vuvuzela. ‘Pencekalan’ ini berlaku di seluruh event yang digelar di bawah payung FIBA.

“Kami ingin fans menikmati olahraga ini, berekspresi sesuka mereka, dan juga membuat keriuhan tanpa mengancam keselamatan yang lain. Vuvuzela tidak layak untuk tempat tertutup sepreti basket. Alat itu mengeluarkan bunyi sangat keras dan pakar medis yakin bahwa tingkat kebisingan dan frekuensi bisa mengancam pendengaran,” demikian sekjen FIBA Patrick Baumann.

Ada pun kejuaraan dunia nanti digelar 28 Agustus-12 September, diikuti 24 negara termasuk juara bertahan Spanyol dan negara yang menjadi ‘ikon’ basket yakni Amerika Serikat.

dtc/ tiw

Kami Toko Cat Warna Abadi, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Leave a Reply

Kolom

GAGASAN
Masa Depan Keroncong

Gagasan ini dimuat Solopos edisi Kamis (27/7/2017). Esai ini karya Tito Setyo Budi, peserta Program Doktor di Institut Seni Indonesia (ISI) Solo yang sedang menyusun disertasi tentang estetika keroncong karya Gesang. Alamat e-mail penulis adalah titoesbudi@yahoo.com. Solopos.com, SOLO — Festival musik…