Senin, 2 Agustus 2010 10:15 WIB News Share :

SBY didesak perhatikan teror terhadap wartawan

Jakarta–Kekerasan terhadap wartawan makin kerap terjadi. Ketua Dewan Direktur Sabang-Merauke Circle (SMC) Syahganda Nainggolan, mendesak Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) untuk memperhatikan serius berbagai teror yang dialami media maupun wartawan.

Selain itu juga  memberi jaminan rasa aman pada tugas-tugas jurnalistik. Hal itu disampaikan Syahganda dalam rilis yang diterima detikcom, Senin (2/8) terkait kematian wartawan Merauke TV, Adriansyah Matrais, Jumat (30/7) di Papua yang diduga korban kekerasan pihak tertentu. Termasuk menyikapi bentuk teror berupa ‘kertas darah’ terhadap Lala, wartawati harian Bintang Papua pada Sabtu (31/7).

“Yang memprihatinkan karena hampir seluruh jurnalis yang ada di Papua mendapatkan teror, sehingga tidak lagi merasa aman dalam melaksanakan profesinya,” jelas Syahganda.

Menurutnya, pekerjaan jurnalis mewakili perasaan dan keadaan di masyarakat, di samping menguntungkan aparat sekaligus pemerintah yang menginginkan keterbukaan.

Dikatakan Syahganda, SBY harus tampil di publik menyampaikan rasa prihatin mengenai kasus-kasus kekerasaan yang menimpa kalangan wartawan. “Presiden SBY tidak boleh diam lantaran kasusnya sudah cukup banyak akhir-akhir ini,” kata alumni ITB tersebut.

Dia mempertanyakan, dalam kasus kekerasan yang menimpa aktivis di Jakarta SBY justru langsung menyatakan perhatian. Sementara untuk kasus yang mendera lingkungan jurnalis mengapa SBY justru tidak terusik. “Apa bedanya seorang aktivis dengan jurnalis, dan ini melibatkan sejumlah jurnalis di sekian tempat,” ujarnya.

Menurutnya, SBY juga harus melindungi sekaligus menjamin rasa aman pada media dan wartawan untuk dapat bekerja secara profesional dan jujur. “Kan aneh kalau ternyata pers sudah bebas tapi mengalami ancaman atau wartawannya terbunuh,” tutupnya.

dtc/ tiw

lowongan pekerjaan
garment, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Generasi Milenial dan Politik

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Selasa (14/11/2017). Esai ini karya Lukmono Suryo Nagoro, editor buku yang tinggal di Kota Solo. Alamat e-mail penulis adalah lukmono.sn@gmail.com. Solopos.com, SOLO–Baru-baru ini lembaga think tank yang bermarkas di Tanah Abang, Jakarta, Centre for…