Minggu, 1 Agustus 2010 20:54 WIB Kolom Share :

Dominasi Keong Racun…

Tak mau ketinggalan dengan kehebohan di dunia maya soal dua mahasiswi Bandung Sinta-Jojo yang berakting seolah-olah sedang menyanyikan lagu Keong Racun, obrolan kelas kampung warga kami pekan lalu, mengutip istilah dalam Twitter, trending topic-nya juga suputar masalah keong racun itu.

Raden Mas Suloyo yang menjadi motivator ngobrol di News Café—tepatnya warung wedangan hik, kampung kami senantiasa membicarakan hal-hal baru. Kalau dalam ilmu jurnalistik kira-kira Denmas Suloyo ini adalah orang yang sadar isu, paham apa itu news page dan fenomena. Sehingga obrolan pun terasa menarik dan segar.

“Lha istimewanya apa ta Mas, wong dua orang mahasiswi itu hanya mangap-mangap, senyam-senyum sambil nduding-nduding gitu kok jadi heboh,” kata Denmas Suloyo kepada karibnya, Mas Wartonegoro saat menyaksikan cuplikan aksi Jojo-Shinta di YouTube yang ditayangkan salah satu televis berita malam Minggu kemarin.

“Itulah hebatnya teknologi informasi sekarang Denmas. Bertindak biasa-biasa saja bisa menjadi luar biasa. Apalagi kalau berbuat luar biasa lantas jadi bahan omongan di dunia maya… maka nasibnya akan sama seperti Luna Maya tapi bisa juga sebaliknya,” kata Mas Wartonegoro.

”Lha kalau sudah tahu hebatnya dunia maya begitu, mengapa pemerintah tidak bertindak luar biasa melalui dunia maya… biar rakyatnya juga menjadi luar biasa semua. Tidak terus menerus susah membicarakan soal sembako yang tambah mahal,” timpal Denmas Suloyo.

”Wah lha itu beda persoalan. Yang heboh-heboh di dunia maya sesungguhnya belum tentu jadi tren topik di kalangan masyarakat secara luas… ya hanya terbatas di lingkungan orang-orang yang sudah melek teknologi informasi, penguasa cyber media, yang setiap hari tak lepas dari facebook, twitter, black bary dan semacamnya. Rakyat kebanyakan ya tetap saja berkutat dengan kesulitan hidup sehari-harinya…” kata Mas Wartonegoro.

”Semoga saja orang-orang yang berpengaruh dalam dunia maya itu juga perhatian dengan nasib rakyat kebanyakan seperti kita ini ya Mas. Bukan hanya membahas soal yang remeh-temeh seperti keong racun, isu politik dan kehidupan para selebritas,” timpal Denmas Suloyo.

”Ya semoga saja begitu. Soal gas elpiji yang meledak, perihal harga sembako yang masih tak terkendali, masalah biaya pendidikan yang dari tahun ke tahun tambah mahal… dan berbagai persoalan yang menghimpit rakyat semoga juga bisa menjadi trending topic di dunia maya sehingga mampu menyentuh nurani para pejabat, anggota DPR, pemerintah,” kata Mas Wartonegoro.

Dominasi cyber media

Jika kita simak, fenomena Keong Racun sesungguhnya adalah bagian dari dominasi cyber media, dunia maya, yang kini telah mempengaruhi hampir seluruh sendi kehidupan manusia modern. Media konvensional semacam surat kabar, radio dan televisi kini bahkan mau tidak mau harus mengikuti arus besar yang dibangun oleh media Internet ini.

Jika pakar Komunikasi Melvin DeFleur dan Sandra J Ball-Rokeach (1989) menyebut terdapat lima revolusi komunikasi, yaitu zaman manusia berkomunikasi dengan tanda semisal kentongan (the age of signs and signals), zaman bertutur (the age of speech and  language), zaman tulis menulis (the age of writing), zaman percetakan (the age of print) dan zaman komunikasi massa (the age of mass communication), bisa jadi kini telah berkembang ke dalam era digital. Masa di mana segala unsur komunikasi dengan kemajuan teknologi yang dahsyat telah mendominasi sistem berkomunikasi manusia dengan teramat cepat.

Tak heran jika sekarang ini manusia modern kebanjiran informasi dengan pergerakan jauh di luar jangkaun nalar kita. Jojo dan Sinta penyanyi lip sync, Keong Racun pun memperoleh popularitas bak kilat, melesat. Tiba-tiba saja dua mahasiswi ini menjadi sedemikian terkenal hanya dengan menampilkan wajah dan gerak-gerik lucu, konyol.

Di luar kecentilan dua gadis itu, syair lagu Keong Racun tampaknya juga membawa pesan kekinian yang menggelitik, perihal degradasi moral pemuda masa kini sehingga gampang masuk ke benak pendengarnya. Simak saja syairnya, ”Dasar kau keong racun… baru kenal sudah ngajak tidur… ngomong gak sopan santun… kau anggap aku ayam kampung… bla… bla.. bla…

Sebenarnya, banyak betul pesan kekinian yang ingin disuarakan rakyat berupa kesumpekan hidup, ketidakadilan hukum, kemerosotan moral, perilaku negatif wakil rakyat, ketidaktegasan pemerintah dalam sejumlah persoalan dan sebagainya. Namun sering kali rakyat tak mempunyai media untuk menyalurkan.

Sehingga ketika aktor gaek Pong Harjatmo naik ke atap gedung DPR/MPR lantas mencoret-coretnya dengan tulisan ”Jujur, Adil, Tegas” masyarakat pun merasa terwakili. Aksi Pong pun menjadi trending topic di twitter selama sehari penuh… hal yang tak jauh berbeda dengan Keong Racun, gaya polos Jojo dan Sinta yang me-lip sync syair lagu menggelitik itupun kemudian mendominasi dunia maya.

Sehingar bingar apapun dunia maya bahkan dunia nyata kita, sebagai umat manusia yang terpenting adalah bagaimana menjaga harmoni. Seperti yang pernah dipesankan almarhum KH Cholil Bisri, bahwa manusia itu ditakdirkan berbeda-beda, tidak mungkin sama. Sekalipun berbeda, sesungguhnya manusia bisa bersama dalam satu pigura untuk menciptakan hermoni kehidupan untuk saling mengingatkan… bisa lewat Keong Racun… mungkin termasuk mencorat-coret atap gedung DPR itu…

Mulyanto Utomo

Wartawan SOLOPOS

lowongan pekerjaan
PD.BPR BANK BOYOLALI, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Wacana Lama Densus Antikorupsi

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat (20/10/2017. Esai ini karya Hafid Zakariya, Ketua Program Studi Ilmu Hukum di Universita Islam Batik (Uniba) Solo. Alamat e-mail penulis adalah hafidzakariya@gmail.com. Solopos.com, SOLO — Rencana pembentukan Detasemen Khusus Antikorupsi yang digulirkan kembali oleh…