Sabtu, 31 Juli 2010 23:05 WIB Issue Share :

Bali siap gelar pertemuan seniman Indonesia-Myanmar

Ubud--Setelah pertukaran seniman dalam program “Myanmar-Indonesia Art Exchange 2010” sukses digelar di Yangon,  direncanakan pertemuan sejenis digelar di Bali pada tahun 2011.
“Seniman Myanmar ingin melakukan kunjungan balasan tahun depan, sambil menguatkan jaringan antar seniman kedua negara,” kata Perupa Nyoman Sujana Kenyem kepada wartawan di Denpasar, Sabtu, (31/7).

Sujana mengatakan lewat program tersebut banyak memberikan pengalaman kepada seniman antara kedua negara.

“Selain pameran bersama, selama sepekan mereka berinteraksi intens melalui simposium, workshop, dan mengunjungi galeri, museum, serta pusat-pusat seni dan kebudayaan,” kata Sujana.

Acara yang diselenggarakan New Zero Art Space, Yangon, Myanmar tersebut dimaksudkan guna lebih mendekatkan seniman kedua negara, agar saling memahami latar belakang budaya masing-masing dengan kesadaran dan semangat keasiatenggaraan.

Menurutnya, minat pegiat seni di Myanmar dalam belajar sangat tinggi, ditambah antusiasme “menjemput bola” terhadap kegiatan berskala regional maupun internasional.

New Zero misalnya memiliki kantor dan perpustakaan yang juga digunakan untuk sosialisasi seni rupa kontemporer melalui berbagai kegiatan bagi masyarakat umum.

Untuk pendanaan, lanjut Kenyem, mereka tak segan mengajukan proposal kepada yayasan dari berbagai negara.

Meski kondisi negerinya dipimpin oleh junta militer namun memberi nuansa tersendiri baik dalam karya maupun sikap para seniman.

“Seniman di sana belum sebebas di sini untuk bisa mengekspresikan diri, karena masih ada sensor dari pemerintah sebelum pembukaan pameran,” ucapnya.

Dicontohkan bagaimana ketatnya pengawasan negara tersebut terhadap karya seniman, setiap karya diteliti tim pemerintah, jangan sampai ada karya berbau pornografi atau menyinggung masalah politik negeri itu.

Pameran di antaranya dihadiri Dubes RI untuk Myanmar Sebastianus Sumarsono akhirnya dibuka untuk umum.

“Seniman di sana enggan protes secara frontal terhadap perlakukan rezim ini, lebih baik dengan cara lain yakni memperbanyak kegiatan untuk penguatan kompetensi,” kata dia.

Sementara Antonius Kho yang juga ikut dalam program itu mengatakan, puluhan seniman anggota New Zero Art Space yang menjadi penggerak seni kontemporer di Myanmar aktif melakukan residensi, pameran, dan kegiatan di luar negeri.

“Ketika ditawarkan Bali sebagai lokasi program berikutnya pendiri New Zero Aye Ko langsung menyetujui,” sebut Kho.

Direktur Program New Zero Kaung Su memastikan akan mengirimkan sejumlah seniman pada tahun 2011 dan ia berharap koleganya di Bali menjadi mitra stretegis pengembangan program ke depan serta membangun jaringan antar seniman yang lebih luas lagi di negara-negara ASEAN.

Ant/nad

lowongan pekerjaan
PT. ATALIAN GLOBAL SERVICE, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
”Akad” Populer karena Berbeda

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu (14/10/2017). Esai ini karya Romensy Augustino, mahasiswa Jurusan Etnomusikologi Fakultas Seni Pertunjukan Institut Seni Indonesia (ISI) Solo. Alamat e-mail penulis adalah romensyetno@yahoo.com. Solopos.com, SOLO – -Youtube adalah salah satu media sosial yang menjadi rujukan…