Kamis, 29 Juli 2010 16:51 WIB News Share :

Gubernur
OP beras belum diperlukan di Jateng

Wonogiri (Espos)–Kendati harga beras di pasaran melambung cukup tinggi, Gubernur Jateng H Bibit Waluyo mengatakan operasi pasar (OP) beras maupun bahan-bahan kebutuhan pokok lainnya belum terlalu mendesak untuk dilakukan. Menurutnya, persediaan Sembako di Jateng masih sangat cukup.

Informasi yang dihimpun Espos, harga beras di pasar tradisional di wilayah Wonogiri berada di kisaran Rp 6.000/kg untuk jenis beras lokal. Harga tersebut, naik tinggi dibandingkan sebulan sebelumnya di mana harga beras dari jenis dan kualitas yang sama masih sekitar Rp 4.800/kg.

Bibit, yang ditemui wartawan seusai menghadiri acara peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-48 Persatuan Wredatama Republik Indonesia (PWRI) Provinsi Jateng yang dipusatkan di Wonogiri, Kamis (29/7) mengatakan, kenaikan harga beras itu, juga sejumlah bahan-bahan kebutuhan pokok lainnya, lebih karena sentimen menjelang Ramadan dan Lebaran. Bukan karena penurunan produksi padi yang disebabkan serangan wereng cokelat seperti anggapan banyak kalangan.

“Serangan wereng selama enam bulan terakhir tidak berpengaruh besar terhadap ketahanan pangan di Jateng. Pasalnya, cakupan serangan itu tidak terlalu luas. Dari total luas tanaman padi di Jateng sekitar 8 juta hektare,  yang puso akibat wereng hanya 800 hektare,” jelasnya. Bibit juga mengatakan, data sampai akhir 2009 lalu, Jateng masih surplus beras sebesar 2,6 juta ton.

Berkaitan dengan serangan hama wereng, Bibit menyampaikan penyesalannya kepada semua kepala daerah (bupati/walikota) yang dinilainya kurang bergerak cepat mengatasi permasalahan itu. Menurutnya, setiap jengkal tanah yang ada di daerah adalah tanggung jawab pemimpinnya, dalam hal ini, bupati dan walikota.

“Tapi mana? Sampai sekarang bupati atau walikota nggak ada yang punya konsep penanganan hama wereng. Bagaimanapun, mengatasi serangan wereng adalah tanggung jawab semua warga masyarakat, terutama bupati/walikota,” tegasnya.

shs

lowongan pekerjaan
PT. SO GOOD FOOD, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Masyarakat Tertutup Era Keterbukaan

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin (9/10/2017). Esai ini karya Ichwan Prasetyo, jurnalis Solopos. Alamat e-mail penulis adalah ichwan.prasetyo@solopos.co.id. Solopos.com, SOLO–Masyarakat tertutup mempertahankan keberadaannya melalui ketaatan mutlak kepada perintah yang diyakini benar, terlepas dari apakah kebenaran itu sudah diuji…