Senin, 26 Juli 2010 16:55 WIB Tekno Share :

Karakter fiktif perlihatkan risiko jejaring sosial

Jakarta –– Seorang ahli keamanan internet bernama Thomas Ryan membuat karakter fiktif atau khayalan untuk memperlihatkan risiko dalam beraktivitas di jejaring sosial.

Karakter Ryan yang diberi nama Robin Sage ini akan dipresentasikan pada acara Black Hat Technical Security Conference di Las Vegas bulan ini. Ryan berharap, hasil eksperimennya bisa menjadi masukan bagi komunitas keamanan nasional untuk benra-benar serius memperhatikan kebijakan terkait jejaring sosial.

“Saya rasa, ini akan mengubah kebijakan. Hasil studi ini mungkin membantu menyediakan sebuah tuntunan. Perusahaan saya bekerja menggarap kebijakan untuk bisa dibagi kepada siapa saja,” kata Ryan seperti dilansir Fox News, Senin (26/7).

Dalam eksperimennya, Ryan menggunakan Robin Sage untuk mencari informasi dari berbagai sumber melalui situs jejaring sosial.

“Ada banyak informasi bocor yang tidak diketahui para pengguna internet. Mereka tidak mengerti informasi apa saja yang mereka taruh di sana,” terangnya.

Ryan mencontohkan, jika seseorang menggunakan iPhone, maka sangat mungkin terjadi kebocoran informasi terkait lokasi si pengguna berada, nama si pengguna iPhone dan versi software iPhone yang digunakan. .

Selama eskperimen yang berlangsung selama 28 hari, Robin mampu mengumpulkan  300 teman di situs LinkedIn. Akun Facebook miliknya berhasil menarik 110 orang teman dan akun Twitternya menarik perhatian 141 follower.

Koneksi Robin terus berkembang hingga ke staf National Security Agency, direktur intelijen Angkatan Laut Amerika Serikat dan beberapa staf di Pentagon.

dtc/tya

lowongan pekerjaan
NSC FINANCE KARTASURA, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Wacana Lama Densus Antikorupsi

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat (20/10/2017. Esai ini karya Hafid Zakariya, Ketua Program Studi Ilmu Hukum di Universita Islam Batik (Uniba) Solo. Alamat e-mail penulis adalah hafidzakariya@gmail.com. Solopos.com, SOLO — Rencana pembentukan Detasemen Khusus Antikorupsi yang digulirkan kembali oleh…