Minggu, 25 Juli 2010 15:43 WIB News Share :

Trauma ledakan, korban buang tabung gas 3 kgz

Jakarta –– Eha,40, satu dari 10 korban ledakan gas 3 kg di Tanjung Duren, Jakarta Barat, mengaku trauma dengan kejadian yang menimpanya. Ke depan, dia emoh memakai tabung gas program konversi pemerintah itu.

“Saya sudah telepon anak saya, Saya suruh buang saja tabung gasnya. Saya sudah nggak tahan,” kata Eha saat ditemui wartawan di RS Sumber Waras, tempat para korban dirawat, Jl Kyai Tapa, Jakarta Barat, Minggu (25/7).

Korban lainnya, Zainudin,20, meminta pemerintah lebih memperhatikan tabung gas 3 kg yang diproduksi. Sebab, menurut Zainuddin, ledakan kali ini disebabkan murni oleh tabung gas yang bocor.

“Tolonglah dicek lagi, gas-gas yang rusak-rusak itu. Takutnya ada kejadian lagi. Ini bukan karena kelalaian masyarakat, tapi karena yang bocor gasnya, bukan selang atau regulatornya,” kata Zainudin, keponakan Kasran (40), pemilik tabung.

Baik Eha dan Zainudin akan dioperasi karena luka bakar yang mereka derita. Eha terkena luka bakar di kaki, sedangkan Zainudin lebih parah, mengalami luka bakar di tangan, kaki dan perut.

Sebelumnya, pemerintah mengumumkan bahwa ledakan gas di sejumlah daerah di tanah air, tidak ada yang disebabkan oleh kebocoran tabung, tapi kebocoran selang dan regulator.

Dari hasil rapat evaluasi ledakan tabung gas di Kantor Wapres beberapa waktu yang lalu, yang dihadiri sejumlah menteri menyimpulkan kebocoran selang dan regulator yang menjadi penyebab. Selang yang dipakai warga ditengarai bukan selang SNI. Selain itu, banyaknya pemalsuan selang SNI.

“Kadangkala selang yang dipakai selang air, dan tidak memperhatikan daluwarsa selang. Selang harus diganti setahu sekali,” ujar Kepala UKP4, Kuntoro Mangkusubroto saat itu.

Mantan Wapres Jusuf Kalla, pencetus ide konversi juga mengatakan, kebocoran selang dan tabung itu karena kelalaian masyarakat yang tidak pernah mengganti dua komponen itu sejak program konversi dilakukan 3 tahun silam.

dtc/tya

lowongan pekerjaan
PT. ATALIAN GLOBAL SERVICE, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
”Akad” Populer karena Berbeda

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu (14/10/2017). Esai ini karya Romensy Augustino, mahasiswa Jurusan Etnomusikologi Fakultas Seni Pertunjukan Institut Seni Indonesia (ISI) Solo. Alamat e-mail penulis adalah romensyetno@yahoo.com. Solopos.com, SOLO – -Youtube adalah salah satu media sosial yang menjadi rujukan…