Minggu, 25 Juli 2010 23:20 WIB Karanganyar Share :

Tak optiomal, DPRD soroti pemerataan guru

Karanganyar (Espos)–Komisi IV DPRD Karanganyar menyoroti pemerataan guru di sekolah-sekolah setempat yang dinilai tidak optimal. Selain menghambat upaya peningkatan mutu pendidikan, hal itu berisiko membebani warga masyarakat.

Ketua Komisi IV DPRD Karanganyar, Eko Setyono, kepada wartawan menegaskan, mengacu pada data jumlah guru dan murid sekolah dasar di wilayah setempat, perbandingannya adalah satu guru mengampu 17 murid. Namun demikian dari fakta di lapangan diketahui banyak SD mengalami kekurangan guru dan akhirnya harus ditutup dengan guru wiyata bakti.

“Seperti terjadi di Kecamatan Jatipuro, ada sebuah SD yang guru PNS-nya hanya tiga orang, termasuk kepala sekolah. Kekurangannya hanya ditutupi dengan guru wiyata bakti, itu cukup memprihatinkan,” ungkapnya ketika ditemui wartawan di kompleks DPRD, akhir pekan lalu.

Eko menyatakan, keberadaan guru wiyata bakti akan menjadi beban warga masyarakat karena pembayaran honor dipastikan berasal dari orangtua wali murid. Terlebih diketahui guru-guru wiyata bakti yang ditugaskan membantu mengajar sebagian besar belum masuk di data base.

Tidak jauh berbeda dengan SD, persoalan distribusi guru yang tidak merata juga ditemukan di tingkat SMP. Namun seperti dikemukakan Eko Setyono, permasalahan di jenjang pendidikan menengah pertama tersebut terutama pemerataan guru mata pelajaran keahlian tertentu, salah satu contohnya adalah pada bidang studi teknologi informasi dan komunikasi (TIK).

“Ketika saya tanyakan, Disdikpora berdalih untuk mutasi guru menjadi kewenangan Bupati. Ada apa tho, kok sampai sekedar mutasi guru harus Bupati? Seharusnya sudah saatnya Pemkab melakukan evaluasi terhadap pemerataan guru ini, jangan sampai nanti justru akan menjadi beban masyarakat, dan lebih dari itu menghambat peningkatan mutu pendidikan,” serunya.

Secara terpisah, Kepala Bidang (Kabid) Pendidik dan Tenaga Kependidikan Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahrga (Disdikpora) Kabupaten Karanganyar, Tarsa, tidak dapat dimintai dikonfirmasi mengenai permasalahan tersebut. Tidak ada jawaban dari nomor telepon genggam milik bersangkutan yang berulangkali dihubungi Espos, Minggu (25/7) sore.

try

lowongan pekerjaan
Harian Umum SOLOPOS, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Daya Beli Menurun

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Selasa (17/10/2017). Esai ini karya Ginanjar Rahmawan, mahasiswa Program Doktor Bidang Pemberdayaan Masyarakat dan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah Universitas Sebelas Maret. Alamat e-mail penulis adalah Rahmawan@stiesurakarta.ac.id. Solopos.com, SOLO–Belakangan ini beberapa kawan saya yang…