Jumat, 23 Juli 2010 18:40 WIB News Share :

Halangi jalan SBY, Paspampres pukul bocah di Hari Anak Nasional

Jakarta--Gara-gara dianggap menghalangi jalan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, seorang anggota Pasukan Pengamanan Presiden (Paspampres) memukul anak laki-laki berusia sembilan tahun.

Insiden tersebut terjadi di acara puncak Peringatan Hari Anak Nasional (HAN) di Sasono Langen Budoyo Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta, Jumat (23/7). Ketua Komisi Nasional Perlindungan Anak Seto Mulyadi mengatakan insiden terjadi usai pementasan operet Persatuan Artis Cilik.

“Anak itu menangis karena kepalanya pusing,” kata Kak Seto, sapaan akrab Seto Mulyadi.

Tak pelak, insiden tersebut disaksikan anak-anak lain yang berada di sekitar area pemukulan. Kak Seto mengakui, ketika itu, anak-anak ‘liar’ usai acara.

Kendati demikian, Kak Seto mengingatkan, Paspampres tidak diperbolehkan memukul anak-anak meskipun untuk mengamankan Presiden. Ia meyakini Presiden pasti akan sangat marah dan menyesalkan adanya tindakan berlebihan tersebut.

Insiden tersebut sangat bertolak belakang dengan keinginan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang mengajak semua pihak terlibat untuk melindungi dan mendidik. Menurut Presiden, anak-anak perlu dikasih sayangi. Selain dari kejahatan, anak-anak juga harus dilindungi dari kekerasan, eksploitasi, dan diskriminasi.

Anak-anakpun, kata Presiden, harus dilindungi agar tak ditelantarkan, dari sanksi yang tidak adil, dari pergaulan yang sesat, dan dari perilaku yang buruk. “Itu semua sesungguhnya merupakan bagian dari child protections. Dan juga hakikatnya child security,” kata Presiden.

Dalam puncak Peringatan HAN itu turut hadir 300-an anak dari seluruh Indonesia. Mereka menyajikan atraksi pencak silat dan operet tentang kejayaan nusantara.

Setelahnya, rombongan Presiden, Ibu Negara Ani Yudhoyono, Ibu Wapres Herawati Boediono dan beberapa menteri Kabinet Indonesia Bersatu mengunjungi Istana Anak Anak TMII untuk menyaksikan lomba melukis di atas kaos untuk anak-anak usia TK dan SD.

inilah/nad

lowongan pekerjaan
PT. Lemindo Abadi Jaya, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Mengenang (Pendidikan) Guru

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat (24/11/2017). Esai ini karya Bandung Mawardi, kuncen Bilik Literasi. Alamat e-mail penulis adalah bandungmawardi@gmail.com. Solopos.com, SOLO–Pada akhir abad XIX orang-orang Jawa mulai memiliki cita-cita baru. Sekian orang ingin menjadi guru seperti tuan kulit…