Kamis, 22 Juli 2010 23:29 WIB Sukoharjo Share :

Warga Sukoharjo meninggal akibat ledakan elpiji 3 kg

Sukoharjo (Espos)--Ngatimin, 44, warga Dukuh Karangturi, Desa Dalangan, Kecamatan Tawangsari, Sukoharjo, meninggal dunia Kamis (22/7), sekitar pukul 16.00 WIB, karena luka bakar parah selama hampir dua pekan akibat ledakan elpiji 3 kg.

Menurut penjelasan Suroto Pribadi, tetangga Ngatimin, kepada <I>Espos<I>, melalui pesawat telepon, Kamis malam, Ngatimin adalah warga Karangturi yang sudah cukup lama merantau ke Subang, Jawa Barat.
“Di Subang dia bekerja sebagai pedagang bakso. Tiap pagi hingga sore dia berkeliling menjajakan bakso,” jelas Suroto.

Pada hari Minggu (11/7) lalu, menurut Suroto, seperti biasa ketika bakso dagangannya sudah habis Ngatimin langsung pulang ke rumah kontrakannya. Begitu sampai di rumah, Ngatimin langsung membuka pintu.
“Saat membuka pintu itulah, berdasar penjelasan keluarga Ngatimin, dia mencium bau menyengat yang dipastikan adalah elpiji yang merembes dari tabung di dapur,” tutur Suroto.

Ngatimin kemudian langsung mencabut regulator dengan harapan rembesan gas berhenti. Tak lama kemudian Ngatimin menghidupkan lampu listrik karena cuaca sudah temaram di sore itu.

Begitu Ngatimin menekan saklar untuk menghidupkan lampu, terjadi kobaran api yang membesar dengan cepat. Kobaran api itu langsung mengenai tubuh Ngatimin. Dia kemudian berteriak minta tolong. Tetangga dan keluarga di Subang kemudian membawa Ngatimin ke rumah sakit.

“Luka bakarnya sangat parah. Bagian kepala, dada hingga kaki terbakar hebat. Luka-lukanya sangat parah,” ujar Suroto.

Kobaran api di rumah kontrakan Ngatimin itu diperkirakan berasal dari percikan api saat saklar listrik ditekan untuk menghidupan lampu. Percikan api itu kemudian membesar oleh akumulasi bocoran gas dari tabung elpiji di rumah kontrakan Ngatimin.

Badan Ngatimin turut disambar kobaran api karena saat itu diperkirakan posisi berdirinya di dalam akumulasi bocoran gas tersebut. Hal itu, menurut Suroto, bisa diduga dari luka bakar di tubuh Ngatimin yang nyaris pada seluruh bagian tubuhnya.

Ngatimin kemudian dirawat di rumah sakit di Subang selama beberapa hari. Namun dengan pertimbangan kebutuhan biaya, Ngatimin dan keluarganya kemudian meminta dirujuk ke RS dr Oen Solo Baru.
Hari Senin (19/7) lalu, menurut Suroto, Ngatimin tiba di Sukoharjo dan kemudia oleh keluarganya dibawa ke RS dr Oen Solo Baru guna meneruskan perawatan. Diduga karena luka bakar yang tergolong parah, pada Kamis kemarin, kurang lebih pukul 16.00 WIB Ngatimin menghembuskan nafas terakhirnya.

“Rencananya jenazah akan dikebunkan besok (Jumat ini-<I>red) pukul 10.00 WIB. Saya dan tetangga-tetangga di sini turut prihatin mengetahui kondisi Ngatimin. Meninggalnya Ngatimin menambah jumlah korban ledakan elpiji 3 kg di negeri ini,” tutur Suroto mengakhiri penjelasannya.

pra

lowongan pekerjaan
Perusahaan Outsourcing PLN, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Calon Tunggal dan Disfungsi Demokrasi

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu (10/01/2018). Esai ini karya Isharyanto, dosen Hukum Tata Negara di Universitas Sebelas Maret Solo. Alamat e-mail penulis adalah isharyantoisharyanto8@gmail.com. Solopos.com, SOLO–Pada 2018 ini 171 daerah provinsi/kabupaten/kota akan menyelenggarakan pemilihan kepala daerah secara serentak….