Rabu, 21 Juli 2010 13:21 WIB Ekonomi Share :

JK minta bau gas elpiji dibuat lebih menyengat

Jakarta–Sebagai seorang pencetus ide konversi minyak tanah ke gas elpiji, rupanya Mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) masih menyempatkan perhatiannya pada masalah program konversi ini.

Maraknya kasus terbakarnya tabung elpiji 3 Kg yang banyak memakan korban jiwa, membuat JK mengusulkan agar PT Pertamina (persero) untuk memperhatikan masalah zat campuran pada gas elpiji agar lebih berbau.

Ia mengharapkan Pertamina meningkatkan jumlah kandungan zat pembau (ethyl merchaptan) di elpiji agar ketika terjadi kebocoran gas masyarakat pengguna bisa mengetahuinya.

“Bahannya perlu ditambah agar baunya lebih menyengat kalau bocor,” kata Jusuf Kalla melalui pesan singkatnya, Selasa malam (20/7).

Selama ini zat tambahan pembau pada elpiji atau ethyl merchaptan memiliki komposisi tertentu dalam setiap komposisi campuran massa jenis gas elpiji. Sehingga aroma ‘bau’ dari gas yang menyebar ke udara karena kebocoran tabung bisa terendus manusia dalam jarak tertentu.

Masalah ini  sebelumnya sudah pernah diungkapkan oleh Ketua Komite Tetap Perdagangan Distribusi dan Keagenan Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Natsir Mansyur.

Menurut Natsir, Pertamina harus mampu menjelaskan masalah ini kepada publik. Mengingat sistem alarm (early warning)  bau bagi elpiji sangat penting agar masyarakat pengguna khususnya elpiji 3 Kg bisa mengetahui jika terjadi kebocoran.

“Kalau tak ada campuran, maka fungsi gas elpiji, apabila terjadi kebocoran tak bisa dideteksi,” jelasnya.

Natsir berharap masalah keamanan bagi elpiji harus menjadi perhatian Pertamina, termasuk dalam memastikan produk elpijinya tetap menggunakan aroma pembau agar masyarakat selamat dari ancaman kebakaran tabung elpiji.

dtc/rif

lowongan pekerjaan
Gramedia Surakarta, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Mengenang (Pendidikan) Guru

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat (24/11/2017). Esai ini karya Bandung Mawardi, kuncen Bilik Literasi. Alamat e-mail penulis adalah bandungmawardi@gmail.com. Solopos.com, SOLO–Pada akhir abad XIX orang-orang Jawa mulai memiliki cita-cita baru. Sekian orang ingin menjadi guru seperti tuan kulit…