Selasa, 20 Juli 2010 18:24 WIB News Share :

Polri
Tidak zaman lagi melakukan intimidasi

Jakarta –– Mabes Polri membantah melakukan intimidasi terhadap empat orang saksi kasus pelemparan bom molotov ke kantor redaksi Majalah Tempo. Polri menilai intimidasi agar saksi memberikan keterangan sesuai skenario polisi, sama sekali bukan langkah yang efektif dalam proses hukum.

“Tidak zamannya lagi intimidasi. Kalau kita paksakan keterangan dan di pengadilan saksi cabut, ya nol lagi,” ujar Kadiv Humas Mabes Polri Irjen Edward Aritonang, dalam diskusi bertajuk ‘Kekerasan Terhadap Media Massa’ di Jakarta Media Centre (JMC), Jl Kebon Sirih, Jakarta, Selasa (20/7).

Edward menjelaskan, bukti formil yang dijadikan pegangan dalam suatu proses hukum adalah keterangan yang saksi sampaikan dalam persidangan. Maka dari itu, konsentrasi penyidik Polri dalam penyidikan adalah terhadap bukti-bukti materiil.

“Kami lebih mengejar bukti materiil. Bukti formil hanya menguatkan bukti materiil. Penyidik Polri menghindari alat bukti berupa keterangan saksi,” jelas Edward.

Di dalam proses mencari bukti materiil, Edward menegaskan tim forensik Polri punya kemampuan untuk melakukan analisa terhadap barang bukti yang ditemukan di lokasi kejadian. Data temuan tersebut yang kemudian dikonfrontir kepada para saksi.

“Tim forensik berdasarkan ilmu pengetahuan bisa tahu dari sudut sebelah mana itu (bom molotov) dilempar. Apakah dari atas, bawah, kanan atau kiri,” ujar dia.

dtc/tya

lowongan pekerjaan
SUMBER BARU BEJEKI, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Calon Tunggal dan Disfungsi Demokrasi

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu (10/01/2018). Esai ini karya Isharyanto, dosen Hukum Tata Negara di Universitas Sebelas Maret Solo. Alamat e-mail penulis adalah isharyantoisharyanto8@gmail.com. Solopos.com, SOLO–Pada 2018 ini 171 daerah provinsi/kabupaten/kota akan menyelenggarakan pemilihan kepala daerah secara serentak….