Selasa, 20 Juli 2010 09:42 WIB Pendidikan Share :

Mahasiswi Unair ciptakan plastik ramah lingkungan

Surabaya–Humaira, 21, mahasiswi jurusan kimia, fakultas sains dan teknologi Universitas Airlangga (Unair) Surabaya, Jawa Timur, menciptakan plastik ramah lingkungan yang mudah terdegradasi oleh tanah dalam waktu sepekan.

Ini dilakukan karena plastik yang sudah terpakai kerap menimbulkan pencemaran lingkungan karena menumpuknya sampah terlalu lama, sehingga rawan bencana banjir. “Plastik yang biasanya menumpuk dan mencemari lingkungan hingga bertahun-tahun dapat terdegradasi atau terurai dengan tanah hanya dalam kurun waktu kurang dari satu minggu,” ujar gadis kelahiran Jombang tersebut, Selasa (20/7).

Ia menjelaskan, plastik sintetis merupakan bahan pengemas makanan yang memiliki dampak negatif terhadap lingkungan dan kesehatan manusia, berasal dari bahan – bahan sintesis seperti “selulosa asetat”, “polietilen”, “polipropilen”, “poliamida”, “poliester”, “polivinil klorida” (PVC), “polivinil asetat” dan “aluminium foil”.

Plastik yang dibuat dari bahan-bahan tersebut bersifat non “biodegradable” atau tidak dapat diuraikan secara alami oleh mikroorganisme di dalam tanah.

Tidak hanya itu saja, biasanya plastik sintetis ditambahkan bahan pelembut (“plasticizer”) agar tidak kaku dan tidak mudah rapuh. Bahan pelembut ini, sebagian besar terdiri atas senyawa golongan “ftalat” (ester turunan dari asam ftalat).

“Padahal, penggunaan ‘plasticizers’ seperti PCB dan DEHA dapat menimbulkan kematian jaringan dan bersifat karsinogenik pada manusia,” ucapnya mengungkapkan.

Perempuan berjilbab itu mengungkapkan, penelitiannya kali ini memberikan terobosan alternatif melalui pengembangan plastik “biodegradabel” yang mudah didegradasi oleh mikroorganisme dalam tanah dan “renewable” (terbarukan).

Lebih lanjut dia mengemukakan, bahan yang digunakan untuk pembuatan plastik biodegradabel ini antara lain pati lidah buaya, kitosan, dengan gliserol sebagai “plasticizer”.

“Lidah buaya mengandung ‘polisakarida’ yang dapat membentuk lapisan film plastik yang memiliki sifat antibakteri, sedangkan kitosan mengandung protein untuk memperkuat sifat mekanika atau kekuatan plastik, serta gliserol sebagai ‘plasticizer’ yang ramah lingkungan untuk memberikan kelenturan atau elastisitas pada plastik,” tukas alumnus SMA Negeri 2 Jombang tersebut.

Oleh karena itu, plastik biodegradabel dari lidah buaya ini memiliki keunggulan yaitu bersifat antibakteri dan mudah didegradasi oleh mikroorganisme dalam tanah, paparnya.

Humairah juga mengatakan, plastik dari pati lidah buaya-kitosan dibuat dengan variasi konsentrasi kitosan tiga persen, empat persen, lima persen, enam persen, dan tujuh persen (b/v). Sedangkan konsentrasi lidah buaya dan gliserol dibuat tetap yaitu lima persen (b/v) dan 10 mililiter.

Tentang metode, ia menerangkan, metode yang digunakan dalam sintesis plastik dari lidah buaya-kitosan, yakni “inverse fasa” dengan penguapan pelarut pada temperatur 60 derajat celcius.

“Untuk karakterisasi plastik ini meliputi pengukuran ketebalan, uji sifat mekanik, uji ‘swelling’, penentuan morfologi dan uji sifat ‘biodegradable’,” paparnya.

ant/rif

lowongan pekerjaan
CV PRIMEDANIE, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Wacana Lama Densus Antikorupsi

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat (20/10/2017. Esai ini karya Hafid Zakariya, Ketua Program Studi Ilmu Hukum di Universita Islam Batik (Uniba) Solo. Alamat e-mail penulis adalah hafidzakariya@gmail.com. Solopos.com, SOLO — Rencana pembentukan Detasemen Khusus Antikorupsi yang digulirkan kembali oleh…