Selasa, 20 Juli 2010 23:14 WIB Wonogiri Share :

Kemah, belasan siswa SMAN 3 Wonogiri kesurupan

Wonogiri (Espos)–Belasan siswa SMAN 3 Wonogiri mengalami kesurupan selama mengikuti Perkemahan Pergantian Penggalang ke Penegak (Perpegak) Pramuka di lapangan Ngadipiro, Nguntoronadi, Wonogiri, Jumat-Minggu (16-18/7).

Salah satu di antara mereka bahkan sampai harus dirawat di rumah sakit. Sejumlah siswa, saat ditemui wartawan di SMAN 3 Wonogiri, Selasa (20/7) mengungkapkan, kasus itu sebenarnya bukan kejadian kali pertama. Setiap ada kegiatan Perpegak awal tahun ajaran baru, hampir pasti ada kejadian siswa kesurupan. Korbannya kebanyakan siswa perempuan.

Salah seorang siswa kelas XI, Novasa Hengki, yang mengaku bisa berhubungan dengan makhluk dari alam gaib mengatakan, hingga para siswa kembali ke sekolah, jin-jin yang merasuki para siswa itu masih mengikuti. “Saya dan teman saya berusaha mengembalikan jin-jin itu ke tempat asal mereka, tapi rupanya ada yang masih bertahan,” katanya.

Teman Novasa, Antonius George, yang juga mengaku sejak lahir bisa berhubungan dengan alam gaib mengungkapkan, kesurupan itu terjadi karena jin-jin dari Nguntoronadi itu merasa disepelekan. Kegiatan Perpegak itu tidak diawasi oleh guru dan tidak izin dulu ke juru kunci tempat itu.

Salah satu siswa yang kerasukan, Nita, dengan gaya seperti laki-laki mengatakan dirinya bernama “Fikri”, tinggal di dekat sungai tak jauh dari lapangan Ngadipiro. Dia mengaku tidak terima tempatnya dipakai untuk acara Perpegak.

Pasalnya, biasanya dalam acara itu, para siswa dibiarkan melakukan kegiatan tanpa pengawasan guru. “Ya saya kasihan saja, sama anak-anak itu. Saya sudah memperingatkan tempat itu angker, tapi anak-anak itu dibiarkan tanpa pengawasan dan tanpa izin juru kunci,” ujar “Fikri”.

Antonius menuturkan, sebelum Perpegak digelar, kakak salah satu peserta Perpegak sudah memperingatkan agar tidak menyelenggarakan Perpegak di lokasi itu. Tapi panitia bersikukuh menyelenggarakannya di tempat itu.
Beberapa siswa lain, saat ditemui wartawan, mengatakan ada salah satu peserta Perpegak, Lidya Kaori, siswa kelas XI, sampai harus dirawat di rumah sakit. Tapi mereka tidak tahu di rumah sakit mana Lidya dirawat. Siswa lainnya yang kesurupan, kebanyakan berjenis kelamin perempuan, berhasil disembuhkan.

Pihak guru maupun kepala sekolah, hingga berita ini diturunkan belum ada yang bisa ditemui untuk dimintai konfirmasi. Saat wartawan mendatangi sekolah tersebut, kepala sekolah dan para wakil kepala sekolah (Wakasek) dikabarkan tengah rapat.

Ditunggu beberapa lama, rapat itu tak kunjung selesai. Sorenya, Espos berusaha menghubungi Kasek dan salah satu Wakasek, namun tidak berhasil.

shs

lowongan pekerjaan
Harian Umum SOLOPOS, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Daya Beli Menurun

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Selasa (17/10/2017). Esai ini karya Ginanjar Rahmawan, mahasiswa Program Doktor Bidang Pemberdayaan Masyarakat dan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah Universitas Sebelas Maret. Alamat e-mail penulis adalah Rahmawan@stiesurakarta.ac.id. Solopos.com, SOLO–Belakangan ini beberapa kawan saya yang…