Selasa, 20 Juli 2010 23:34 WIB Klaten Share :

Berhenti jadi dosen, Erwina Kusmarini sukses jadi pengusaha

Klaten (Espos)--Ramah dan bersahabat, demikian kesan Espos saat bertemu dengan pengusaha jilbab dan mukena, Erwina Kusmarini, 37, di kediamannya Dukuh Kwaon, Desa Jemawan, Kecamatan Jatinom, Klaten, Senin (19/7).

Di tengah kesibukannya menyelesaikan pesanan jilbab dan mukena yang menggunung, lulusan S-1 Sastra Indonesia Universitas Gadjah Mada (UGM) ini bersedia menyempatkan waktunya untuk bercerita bagaimana dia merintis usahanya itu.

Siapa sangka, pengusaha yang kini memiliki omzet ratusan juta rupiah per bulan ini semula adalah seorang dosen di Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi dan Perbankan (STIE Bank) Jogja dan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY). Diakui, istri dari Wahyudi Nasution ini meninggalkan profesi sebagai dosen kala itu merupakan pilihan yang berat bagi dirinya.

Akan tetapi, Erwina harus rela melepas profesi itu demi merawat mertuanya, Asiyah yang sedang sakit-sakitan di Klaten pada tahun 2003 silam. “Saya tidak mungkin bekerja di Jogja sementara pikiran saya selalu berada Klaten. Karena itulah, saya memilih berhenti jadi dosen untuk merawat mertua saya,” ujar pemilik Bunda Collection ini.

Sambil merawat mertuanya, ibu tiga orang anak ini iseng mengasah kemampuan menjahitnya yang pernah dipelajari semasa kuliah. Berbekal sebuah mesin jahit usang yang dibawanya dari Jogja, Erwina pun mulai melayani pesanan jilbab dari salah satu rekan kerja suaminya. Kala itu, Erwina mengaku mendapatkan keuntungan senilai Rp 800.000.

Akan tetapi, keuntungan pertama itu langsung digunakan untuk membeli seekor sapi kurban. “Sebenarnya uang itu kalau digunakan untuk membeli kain bisa dapat banyak sekali. Tetapi, kami percaya Allah akan memberikan lebih jika kita bersedia berkurban,” tutur Erwina.

Keyakinan Erwina itu terbukti saat PT Perusahaan Gas Negara memberikan pinjaman modal senilai Rp 25 juta kepadanya pada tahun 2006. Melalui modal ini, Erwina mulai mengembangkan usahanya lebih besar. Hingga kini, Erwina memiliki 125 karyawan yang terdiri atas 105 tenaga harian dan 20 tenaga borongan.

Uniknya, ke-125 karyawan tersebut semuanya perempuan usia produktif yang berasal dari Kecamatan Jatinom, Tulung, Ngawen, dan lain-lain. Mereka semula adalah penggangguran atau korban PHK di suatu perusahaan tekstil. Sebanyak 15 karyawan di antaranya merupakan mantan TKI yang di Malaysia dan Brunai Darussalam. “Wanita juga memiliki hak untuk mendapatkan pekerjaan. Itu lebih baik daripada sekadar menjadi pengangguran,” tutur wanita asli Palembang ini.

Erwina kini juga memiliki ratusan pelanggan yang tersebar di kota-kota besar seperti Bandung, Jakarta, Jogja, Semarang, Solo, Aceh, Banjarmasin, Palembang, Balik Papan dan lain-lain. Bahkan, oleh mitra kerjanya, hasil produksinya juga sudah merambah ke luar negeri seperti Malaysia, Brunai Darussalam dan Singapura.

mkd

lowongan pekerjaan
Marketing dan Surveyor, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Masyarakat Tertutup Era Keterbukaan

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin (9/10/2017). Esai ini karya Ichwan Prasetyo, jurnalis Solopos. Alamat e-mail penulis adalah ichwan.prasetyo@solopos.co.id. Solopos.com, SOLO–Masyarakat tertutup mempertahankan keberadaannya melalui ketaatan mutlak kepada perintah yang diyakini benar, terlepas dari apakah kebenaran itu sudah diuji…